PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 2,2 triliun pada Kuartal I 2026, mencatatkan pertumbuhan sebesar 17,1 persen secara tahunan. Capaian positif ini diumumkan dalam konferensi pers virtual pada Selasa (12/5/2026) oleh jajaran direksi perseroan.
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 376,8 triliun atau naik 17,99 persen. Dilansir dari Money, segmen dana murah atau current account savings account (CASA) menjadi motor utama dengan kenaikan 21,36 persen menjadi Rp 236,2 triliun.
"Laba yang kami sampaikan Rp 2,2 triliun ini juga menempatkan BSI pada urutan kelima di perbankan nasional baik dari sisi laba maupun aset," ujar Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.
Peningkatan proporsi dana murah tersebut berhasil menekan biaya dana ke level 2,12 persen, sementara biaya CKPN terjaga di angka 0,73 persen. Kondisi ini memperkuat rasio laba bersih dengan indikasi Return on Assets (ROA) sebesar 2,53 persen dan Return on Equity (ROE) 19,36 persen.
Anggoro merincikan bahwa total CASA terdiri dari giro sebesar Rp 71,7 triliun serta tabungan yang mencapai Rp 164,5 triliun. Strategi penguatan dana murah ini dinilai sangat efektif, terutama melalui optimalisasi produk tabungan haji yang menyasar segmen pasar potensial.
"Kita lihat potensi haji semakin meningkat, potensi anak muda semakin meningkat dan kami melihat itu adalah potensi yang besar untuk BSI bisa tumbuh. Dan kemarin kami melihat bahwa itu menjadi salah satu penopang tabungan kami yang juga besar," ucap Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.
Hingga Kuartal I 2026, jumlah nasabah tabungan haji BSI mencapai 7,25 juta orang dengan 1,2 juta di antaranya merupakan generasi milenial dan Gen Z. Dominasi BSI di sektor ini terlihat dari market share pendaftaran haji yang meningkat menjadi 53,6 persen pada tahun 2025.
Peningkatan aset secara keseluruhan membawa BSI menduduki peringkat lima besar bank nasional dengan total aset Rp 460,1 triliun per Maret 2026. Di sektor penyaluran dana, pembiayaan tumbuh 14,39 persen menjadi Rp 329 triliun yang mayoritas dialokasikan pada segmen konsumer dan ritel.
"Kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan NPF gross sebesar 1,8 persen membaik 8 bps dibandingkan tahun sebelumnya," kata Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.
Selain margin pembiayaan, kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan fee based income sebesar 22,98 persen menjadi Rp 2,09 triliun. Bisnis emas menjadi kontributor terbesar senilai Rp 705 miliar melalui lonjakan transaksi E-mas dan pembiayaan gadai emas.
"Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain," tutur Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.