Laba Bersih Bank INA Melonjak 268 Persen pada Kuartal I 2026

Laba Bersih Bank INA Melonjak 268 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Bank INA Melonjak 268 Persen pada Kuartal I 2026.

PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 268 persen secara tahunan menjadi Rp52,98 miliar pada kuartal I-2026. Capaian positif bank milik Grup Salim ini didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya hingga akhir Maret 2026.

Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily, pendapatan bunga bersih perseroan tumbuh 8,39 persen menjadi Rp172,53 miliar. Lonjakan drastis juga terlihat pada pendapatan operasional selain bunga yang meningkat 600,76 persen menjadi Rp104,11 miliar dalam periode yang sama.

Penyaluran kredit Bank INA mencapai Rp14,78 triliun atau tumbuh 10,35 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan sebesar 9,49 persen. Ekspansi ini ditopang oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp23,03 triliun yang melesat 21,51 persen berkat kontribusi dana murah.

Total aset perseroan kini tercatat berada pada angka Rp31,29 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 26,69 persen. Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi menyatakan bahwa perusahaan tetap melangkah dengan optimisme tinggi untuk menjadi solusi perbankan bagi para nasabah.

"Kami akan fokus menyempurnakan strategi hybrid banking karena kami yakin bahwa perpaduan antara layanan digital dan kehadiran kantor fisik yang mudah dijangkau adalah kunci untuk memberikan solusi keuangan yang aman, cepat, dan nyaman bagi seluruh segmen nasabah, mulai dari individual hingga korporasi," ungkap Henry, Rabu (13/5/2026).

LDR perseroan tercatat sebesar 59,03 persen pada Maret 2026, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 64,96 persen. Wakil Direktur Utama Bank INA Yulius Purnama Junaedi memberikan penjelasan bahwa perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam operasionalnya.

"Prinsip kami adalah memberikan kredit dengan hati-hati," jelas Yulius.

Manajemen menilai penurunan LDR mengindikasikan tingginya kepercayaan publik yang memilih menyimpan dana di Bank INA. Yulius menambahkan bahwa meskipun rasio likuiditas melonggar, pertumbuhan kredit tetap mampu bertahan di angka dua digit.

"Jadi kami sangat bersyukur dengan kepercayaan datang dari masyarakat, sehingga mereka mau simpan dana di Bank INA. Karena untuk kredit kami tetap optimis tapi juga hati-hati, dan kami menunjukkan dengan peningkatan yang cukup baik," ungkap Yulius.

Kualitas aset turut menunjukkan perbaikan dengan rasio kredit bermasalah atau NPL yang turun ke level 3,13 persen dari sebelumnya 3,47 persen. Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan Bank INA Adhiputra Tanoyo menegaskan bahwa pengawasan terhadap kredit bermasalah terus diperketat.

"Kami cadangkan kalau sampai ada apa-apa kami sudah siap. Tim penanganan kredit bermasalah juga sudah diperkuat, kemudian jangan lupa kami juga punya aturan perkreditan yang rutin setiap tahun kami review dan revisi. Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih baik lagi," papar Adhiputra.

Artikel terkait

Rekomendasi