Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan performa positif pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026). Mata uang Garuda tercatat naik 55 poin atau menguat 0,31 persen ke posisi Rp 17.650 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pergerakan ini membalikkan situasi Rabu pagi, di mana kurs rupiah sempat tertekan ke level Rp 17.738 per dolar AS. Posisi pembukaan tersebut memperlihatkan pelemahan 0,18 persen dari penutupan hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.706 per dolar AS.
Dikutip dari Money, lonjakan intervensi positif ini terjadi pasca Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 50 basis poin. Melalui Rapat Dewan Gubernur periode Mei 2026, BI rate kini ditetapkan menjadi 5,25 persen.
Langkah pengetatan moneter ini juga diikuti dengan kenaikan suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen. Selain itu, suku bunga lending facility turut dikerek 50 basis poin hingga mencapai level 6 persen.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai keputusan BI menaikkan suku bunga acuan dilakukan untuk memperkuat stabilitas rupiah. Menurut dia, tekanan global memburuk akibat perang di Timur Tengah. BI juga berupaya menjaga inflasi 2026 sampai 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
ÔÇ£Keputusan ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027,ÔÇØ ujar Ibrahim.
Faktor eksternal yang mendukung penguatan ini juga berasal dari pemaparan target ekonomi nasional oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI. Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada rentang 5,8 persen hingga 6,5 persen untuk tahun 2027.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut rata rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir berada di level 5 persen. Meski begitu, ia mengakui pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mampu menjaga kekuatan kelas menengah dan menekan angka kemiskinan.
Di sisi lain, pemerintah mencanangkan target inflasi domestik tetap terjaga pada kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen. Untuk pergerakan mata uang, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada rentang Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Asumsi makro lainnya menetapkan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pada kisaran 6,5 persen hingga 7,3 persen. Sementara pada sektor energi, harga minyak mentah Indonesia atau ICP diasumsikan bertengger di level 70 dolar AS hingga 90 dolar AS per barel.
Target untuk kapasitas produksi migas juga telah dirumuskan, di mana lifting minyak mentah dipatok mencapai 602.000 hingga 615.000 barel per hari. Untuk lifting gas bumi, pemerintah memproyeksikan target pada kisaran 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari.
Melalui rancangan anggaran fiskal tersebut, pendapatan negara pada tahun depan ditargetkan menyentuh kisaran 11,82 persen hingga 12,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan untuk belanja negara direncanakan berada pada porsi 13,62 persen hingga 14,80 persen dari PDB. Melalui perhitungan tersebut, defisit APBN ditargetkan tetap terkendali pada kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap PDB.