Nilai tukar rupiah mulai bergerak menguat dan menjauhi level psikologis 17.300 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah mata uang Garuda sempat terpuruk hingga menembus level terendah dalam sejarah pada perdagangan sebelumnya.
Dilansir dari Kompas, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi 17.278 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026. Angka ini menunjukkan pemulihan dibandingkan posisi kemarin.
Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), nilai tukar rupiah sempat melemah tajam hingga menyentuh level 17.308 per dolar AS. Penurunan tersebut tercatat sebagai pelemahan harian paling signifikan dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir.
Tekanan terhadap aset-aset di Indonesia dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang terus membayangi stabilitas ekonomi. Kondisi ini dinilai berpotensi memberikan tekanan besar terhadap kesehatan fiskal negara dalam jangka pendek.
Tren pelemahan rupiah sebenarnya telah terlihat sejak pekan lalu. Pada Jumat, 17 April 2026, nilai tukar rupiah juga sempat menyentuh angka terendah sepanjang masa sebelum akhirnya kembali berfluktuasi di pasar spot.
Merespons volatilitas yang tinggi, Bank Indonesia kembali memberikan penegasan terkait komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Otoritas moneter tersebut meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna meredam tekanan terhadap rupiah.
Langkah intervensi ini dilakukan secara terukur untuk memastikan volatilitas tetap berada dalam batas yang dapat ditoleransi. Fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga kepercayaan pasar terhadap aset keuangan domestik.