Kurs Rupiah Menguat ke Rp16.854 per US$ Tanggal 11 Maret 2026

Kurs Rupiah Menguat ke Rp16.854 per US$ Tanggal 11 Maret 2026
Foto: Ilustrasi Kurs Rupiah Menguat ke Rp16.854 per US$ Tanggal 11 Maret 2026.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Investortrust, mata uang Garuda menguat 0,05% hingga bertengger di posisi Rp16.854 per US$.

Peningkatan ini menandakan adanya perbaikan sentimen di pasar keuangan. Sebelumnya, pergerakan rupiah sempat mengalami tekanan yang cukup tajam akibat gejolak geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Meredanya kekhawatiran pelaku pasar dipicu oleh munculnya harapan bahwa konflik dengan Iran dapat berakhir dalam waktu yang lebih cepat. Situasi tersebut berhasil mengurangi tekanan terhadap dolar AS dan membuat pergerakan harga minyak mentah dunia agak melandai.

Selain rupiah, sejumlah mata uang negara lain juga memperlihatkan performa positif terhadap dolar AS. Yuan China tercatat menguat 0,02%, euro Uni Eropa naik 0,14%, poundsterling Britania Raya terapresiasi 0,19%, rupee India menguat 0,57%, dan dolar Singapura naik 0,07%.

Namun, beberapa mata uang di kawasan Asia justru menunjukkan pelemahan. Yen Jepang mengalami penurunan sebesar 0,14%, peso Filipina melemah 0,03%, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,09%.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan bahwa pergerakan ini mencerminkan kelegaan awal dari para investor seiring penurunan harga minyak. Di sisi lain, pelaku pasar masih mempertimbangkan indikasi mengenai kemungkinan Iran menempatkan ranjau di kawasan tersebut.

Indeks dolar AS (DXY) kini bergerak di bawah level 99 setelah sempat mengalami penurunan tajam intraday pada sesi perdagangan sebelumnya. Penurunan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven) terjadi setelah muncul ekspektasi berakhirnya perang Iran dengan cepat.

Pernyataan Pemerintah AS dan Sentimen Inflasi

Presiden AS, Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer yang dijalankan AS di Iran sudah hampir selesai. Menurutnya, operasi tersebut berjalan jauh lebih cepat daripada proyeksi awal yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima minggu.

Donald Trump juga menyatakan adanya rencana untuk mencabut sanksi yang berkaitan dengan minyak. Selain itu, ia telah menugaskan Angkatan Laut AS guna mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz demi meredam kenaikan harga minyak.

Pada sesi sebelumnya, dolar AS sempat menguat akibat aksi beli aset safe haven oleh investor. Konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga komoditas minyak sempat memicu kekhawatiran terhadap gangguan ekonomi yang berkepanjangan serta kembalinya tekanan inflasi global.

ÔÇ£Ke depan, investor menunggu laporan CPI Februari pada Rabu dan indeks harga PCE Januari pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tren inflasi, meskipun keduanya diperkirakan belum sepenuhnya mencerminkan dampak perang Iran,ÔÇØ kata Andry Asmoro.

Artikel terkait

Rekomendasi