Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.732 per Dolar AS 25 Mei 2026

Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.732 per Dolar AS 25 Mei 2026
Foto: Ilustrasi Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.732 per Dolar AS 25 Mei 2026.

Nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin siang, 25 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.05 WIB di pasar spot exchange, mata uang Garuda melemah sebesar 15 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 17.732 per dolar AS, seperti dikutip dari Investor Daily.

Padahal, pada awal perdagangan Senin pagi, nilai tukar rupiah sempat dibuka menguat sebesar 17 poin atau 0,10 persen ke level Rp 17.700 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS justru menunjukkan penurunan sebesar 0,19 persen menuju level 99.049.

Dolar AS dilaporkan melemah di awal perdagangan pasar Asia karena adanya ekspektasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Sentimen tersebut turut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia hingga ke level US$ 100 per barel.

Pelemahan dolar AS juga terjadi terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Mata uang global mencatatkan penguatan bervariasi terhadap greenback pada perdagangan awal pekan ini.

Dolar AS terpantau turun 0,2 persen menjadi 158,87 terhadap yen Jepang. Sementara itu, euro mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen ke posisi US$ 1,1642 per dolar AS, dan poundsterling Inggris menguat 0,4 persen menuju level $ 1,3485 per dolar AS.

Kenaikan juga terjadi pada mata uang komoditas, di mana dolar Australia menguat 0,4 persen menjadi $ 0,7160 per dolar AS. Selanjutnya, dolar Selandia Baru juga mencatatkan penguatan sebesar 0,5 persen ke level $ 0,5877 per dolar AS.

"Ada tanda-tanda awal bahwa sentimen risiko tetap didukung, perdagangan awal di Sydney menunjukkan aksi jual yang luas pada USD, dengan mata uang 'berisiko' seperti AUD diuntungkan sebagai hasilnya," ungkap seorang analis dari Westpac dalam sebuah catatan riset.

Perkembangan Geopolitik AS dan Iran

Di sisi lain, situasi geopolitik global turut memengaruhi pergerakan pasar. Harapan terkait tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran sempat terlihat rapuh selama akhir pekan.

Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman mengenai kesepakatan damai dengan Iran telah dinegosiasikan. Pihak mediator di Pakistan bersama kedua negara terkait juga melaporkan adanya perkembangan positif.

Kondisi ini membuat para pelaku pasar bersikap hati-hati dan skeptis mengenai ketahanan kesepakatan damai tersebut dalam jangka panjang.

"Pasar telah terbiasa untuk sangat sabar menunggu terobosan nyata, tetapi skenario dasar kesepakatan tetap kuat, dengan berita akhir pekan memberikan keyakinan lebih lanjut, meskipun waktunya masih belum jelas." kata Chris Weston, kepala penelitian di Pepperstone Group Ltd di Melbourne.

Artikel terkait

Rekomendasi