Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi, 22 April 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investortrust, mata uang Garuda terkoreksi sebesar 0,12 persen dan berada di level Rp17.164 per US$ pada pukul 09.07 WIB.
Penurunan ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang sedang menantikan laporan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Pengumuman kebijakan moneter tersebut dijadwalkan bakal disampaikan oleh Bank Indonesia pada Rabu siang.
Pelemahan mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga melanda sejumlah mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,12 persen, peso Filipina turun 0,23 persen, rupee India terkoreksi 0,40 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai fluktuasi mata uang Garuda terjadi karena masa depan berakhirnya perang masih belum pasti.
Dalam situasi negosiasi yang sedang berlangsung, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance akan bertolak ke Pakistan. Perjalanan tersebut bertujuan untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut pada minggu ini.
Di sisi lain, para pejabat Iran menyatakan bahwa proses dialog tampaknya sulit terjadi selama AS tetap mempertahankan blokade angkatan lautnya. Kendati demikian, laporan yang beredar menunjukkan Teheran telah mengonfirmasi kepada mediator regional mengenai pengiriman delegasi mereka ke Islamabad.
Masa gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu. Donald Trump juga telah memberikan sinyal bahwa perpanjangan kesepakatan tersebut tampaknya tidak akan dilakukan.
Ketegangan di pasar keuangan semakin meningkat akibat potensi aksi militer lanjutan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini dipicu oleh peristiwa penembakan dan penangkapan kapal berbendera Iran oleh pasukan AS pada akhir pekan lalu.
Sorotan terhadap Sidang Calon Ketua The Fed
Fokus para pelaku pasar pada minggu ini juga tertuju pada pelaksanaan sidang konfirmasi calon Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh.
"Independensinya dari Trump, yang terus-menerus menuntut suku bunga yang lebih rendah, akan menjadi poin fokus utama," kata Ibrahim.
Pencalonan Kevin Warsh saat ini dipandang oleh pasar cenderung kurang lunak atau tidak sejalan dengan ekspektasi pelonggaran moneter. Walaupun Warsh sempat menyatakan dukungan terhadap desakan Trump untuk menurunkan suku bunga, rekam jejaknya menunjukkan sikap yang berbeda.
Pada masa lalunya, Kevin Warsh tercatat pernah melayangkan kritik terhadap aktivitas pembelian aset yang dilakukan oleh Bank Sentral AS. Selain itu, dirinya juga sempat menyerukan pengetatan berupa pembentukan neraca The Fed yang lebih ramping.