Nilai tukar rupiah terpantau merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Berdasarkan informasi yang dihimpun, mata uang Garuda menjadi salah satu yang paling lemah di kawasan Asia pada pagi ini.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot merosot ke posisi Rp17.743 per dolar AS. Nilai tersebut menunjukkan penurunan sebesar 31 poin atau setara dengan 0,21 persen dari penutupan perdagangan hari Selasa kemarin yang berada di level Rp17.704.
Ketegangan geopolitik global disinyalir menjadi pemicu utama koreksi ini. Dilansir dari Suara, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa situasi di Timur Tengah yang belum menentu memicu gejolak pada instrumen keuangan global.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian mengenai kesepakatan perdamaian Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar AS," katanya.
Selain faktor eksternal, pergerakan mata uang domestik juga dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri. Pelaku pasar kini sedang mencermati langkah strategis yang akan diambil oleh bank sentral.
"Investor menantikan RDG BI sore ini yang apabila seperti yang diharapkan menaikkan suku bunga akan sedikit bnayak mendukung rupiah. Range 17650-17800," jelas Lukman Leong.
Di lingkup regional, pergerakan mata uang Asia terpantau sangat dinamis dan bervariasi. Ringgit Malaysia mencatatkan kinerja yang sedikit lebih baik daripada rupiah setelah mengalami koreksi sebesar 0,09 persen.
Selanjutnya, dolar Taiwan mengalami pelemahan sebesar 0,07 persen, diikuti oleh baht Thailand yang terkoreksi 0,06 persen. Won Korea Selatan juga mengalami penurunan 0,04 persen, sementara dolar Hong Kong melemah tipis 0,008 persen terhadap the greenback.