Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penurunan pada perdagangan Jumat (10/4/2026). Mata uang Garuda merosot sebesar 0,14 persen ke posisi Rp17.114 per US$, memperlihatkan kuatnya tekanan eksternal saat ini.
Dikutip dari Investortrust, depresiasi ini sejalan dengan melemahnya sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang terpantau turun 0,13 persen, yuan China terkoreksi 0,01 persen, rupee India melemah 0,09 persen, dolar Singapura menyusut 0,07 persen, dan baht Thailand anjlok hingga 0,43 persen. Di sisi lain, peso Filipina dan ringgit Malaysia justru menguat masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,28 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengungkapkan bahwa para pelaku pasar tengah mencermati perkembangan gencatan senjata berdurasi dua pekan antara AS, Israel, dan Iran yang dinilai sangat rentan.
Kondisi di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel menegaskan operasi militer di Lebanon berada di luar kesepakatan damai. Teheran kemudian menuduh AS telah melanggar perjanjian, sementara jalur logistik penting di Selat Hormuz dilaporkan masih ditutup.
Presiden AS, Donald Trump turut memberikan peringatan keras kepada Iran mengenai rencana pengenaan biaya transit di Selat Hormuz, sekaligus melayangkan kritik terhadap tata kelola distribusi minyak negara tersebut.
Ketidakpastian geopolitik global ini memicu kekhawatiran besar di pasar keuangan terkait potensi hambatan pasokan energi. Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) bergerak sedikit melemah ke level di bawah 99 menjelang perundingan damai.
Dari sisi data makroekonomi, inflasi PCE AS untuk bulan Februari dilaporkan tumbuh sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV mengalami revisi ke bawah disertai kenaikan tipis pada klaim pengangguran awal.
Andry Asmoro menambahkan, fokus investor kini beralih pada rilis data CPI bulan Maret guna mengukur dampak riil konflik geopolitik terhadap stabilitas harga global.
Berdasarkan risalah rapat FOMC bulan Maret, jajaran pembuat kebijakan mengekspresikan kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang berkepanjangan akibat perang. Situasi ini dinilai berpotensi memicu kenaikan suku bunga lanjutan, walaupun bank sentral masih memproyeksikan satu kali pemotongan suku bunga pada tahun ini.