Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Mata uang Garuda merosot ke zona merah seiring dengan memburuknya sentimen risiko global.
Dilansir dari Investor Daily, data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange menunjukkan rupiah dibuka melemah 13 poin atau sekitar 0,07 persen. Saat ini, posisi rupiah berada di level Rp 17.515 per dolar AS.
Kondisi ini menyusul tren negatif pada Selasa, 12 Mei 2026, di mana rupiah ditutup melemah 114 poin. Sebelumnya, mata uang domestik tersebut bahkan sempat menyentuh level Rp 17.528 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah terjadi di tengah posisi dolar AS yang bertahan di level tertinggi dalam sepekan. Hal ini dipicu oleh angka inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat naik 3,8 persen dalam 12 bulan hingga April 2026. Angka tersebut menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak Mei 2023, yang dipicu oleh guncangan harga minyak akibat eskalasi konflik di Iran.
Selain faktor inflasi, ketidakpastian politik di Timur Tengah kembali mencuat dan menyebabkan harga minyak dunia merangkak naik. Situasi ini memperburuk minat investor terhadap aset-aset berisiko di pasar berkembang.
Analisis Strategi Mata Uang Global
Kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill, memberikan pandangannya mengenai pergerakan mata uang global saat ini. Menurutnya, pergerakan dolar AS sangat dipengaruhi oleh sentimen risiko yang berkembang.
"Saya pikir ini adalah nada risiko yang kurang positif, pada dasarnya. Dolar AS telah melacak sentimen risiko dengan sangat dekat sepanjang perang," kata Ray Attrill.Ray Attrill menambahkan bahwa kurangnya momentum positif pada pasar ekuitas juga menjadi faktor penyebab penguatan dolar terhadap mata uang lainnya. Di pasar global, euro dan poundsterling juga mengalami penurunan sekitar 0,05 persen.
Kondisi Mata Uang Lain dan Respons Otoritas
Mata uang euro berada di level US$ 1,1735 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris diperdagangkan pada angka US$ 1,3532 per dolar AS. Berbeda dengan lainnya, yen Jepang relatif stabil di posisi 157,715.
Kestabilan yen Jepang terjadi setelah munculnya spekulasi mengenai penyesuaian suku bunga oleh otoritas setempat. Langkah ini sering kali dipandang sebagai sinyal awal sebelum dilakukannya intervensi mata uang secara langsung.
Meskipun sedang tertekan, Bank Indonesia (BI) menyatakan tetap optimis terhadap penguatan rupiah di masa depan. BI menilai fundamental ekonomi nasional masih solid dengan tingkat inflasi yang terkendali serta intervensi pasar yang terus dilakukan.
| Mata Uang | Nilai Tukar | Perubahan |
|---|---|---|
| Rupiah (IDR) | Rp 17.515 | Turun 13 Poin |
| Euro (EUR) | US$ 1,1735 | Turun 0,05% |
| Poundsterling (GBP) | US$ 1,3532 | Turun 0,05% |
| Yen Jepang (JPY) | 157,715 | Stabil |
Pada penutupan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, rupiah tercatat sempat menguat 53 poin dan berada di level Rp 17.475 per dolar AS. Fluktuasi ini diprediksi masih akan berlanjut mengikuti perkembangan data ekonomi global terbaru.