Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak positif pada perdagangan menjelang akhir pekan. Mata uang Garuda berhasil membalikkan arah setelah sebelumnya sempat melemah cukup dalam.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah tercatat menguat 9 poin atau sekitar 0,05 persen ke posisi Rp 17.836 per dolar AS. Seperti dikutip dari Investor Daily, pergerakan ini terjadi di tengah indeks dolar AS yang juga merangkak naik tipis 0,01 persen menuju level 99.034.
Performa ini menjadi angin segar setelah pada sesi perdagangan sebelumnya, rupiah terpuruk dengan ditutup anjlok hingga 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp 17.847 per dolar AS.
Laporan dari US News menunjukkan bahwa mata uang safe haven dolar AS diproyeksikan bakal kembali mengalami pelemahan. Kondisi tersebut dipicu oleh tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk memperpanjang masa gencatan senjata di kawasan Timur Tengah, sekaligus mencabut blokade di Selat Hormuz.
Redanya tensi geopolitik ini turut memberikan dampak pada pergerakan mata uang global lainnya. Euro terpantau mengalami apresiasi sebesar 0,03 persen menjadi US$ 1,1653 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris bergerak stagnan pada posisi $ 1,3445 per dolar AS.
Di belahan dunia lain, dolar Australia bergerak stabil di level US$ 0,7164 per dolar AS. Sementara itu, dolar Selandia Baru merangkak naik 0,2 persen ke posisi US$ 0,5946 per dolar AS, mendekati performa tertinggi mereka dalam jangka waktu dua pekan terakhir.
Mata uang yen Jepang juga menunjukkan keperkasaan dengan menguat ke level 159,27 per dolar AS. Angka ini menjauh dari batas psikologis krusial 160 per dolar AS yang sebelumnya sempat memicu tindakan intervensi dari otoritas moneter Jepang.
Proyeksi Diversifikasi Aset Investor
Secara umum, dolar AS diprediksi menghentikan tren reli kenaikan yang sudah berlangsung selama dua minggu terakhir, dengan potensi koreksi sekitar 0,3 persen pada penutupan pekan ini.
"Mungkin saja setelah krisis di Iran, di Timur Tengah, berakhir, kita memperkirakan dolar AS akan tetap lemah," kata Massimiliano Castelli, kepala strategi di tim pasar negara global di UBS Asset Management.
Menurut Castelli, konflik di Timur Tengah untuk sementara menghentikan pelemahan dolar karena permintaan akan aset aman, tetapi banyak investor tetap ingin melakukan diversifikasi dari aset dolar AS.