Nilai tukar rupiah di pasar spot menutup perdagangan dengan performa yang kurang bertenaga. Dilansir dari Investasi, pada Jumat 22 Mei 2026, mata uang garuda ini berakhir di level Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pencapaian tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,28% dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.667 per dolar AS. Penurunan nilai tukar rupiah ini terjadi seiring dengan tren yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Hingga pukul 15.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang yang mengalami tekanan paling besar di Asia setelah merosot 0,53%. Di posisi berikutnya, peso Filipina ikut melemah dan ditutup ambles sebesar 0,17%.
Pelemahan ini juga diikuti oleh baht Thailand yang terkikis 0,14% serta dolar Singapura yang mengalami koreksi 0,13%. Sementara itu, ringgit Malaysia dan yen Jepang terpantau sama-sama mengalami penurunan nilai sebesar 0,09%.
Mata uang regional lainnya, dolar Hong Kong, turut memperlihatkan pelemahan tipis 0,02% terhadap the greenback pada sore ini.
Di sisi lain, rupee India mencatatkan diri sebagai mata uang dengan penguatan paling signifikan di Asia setelah melonjak 0,33%. Disusul kemudian oleh dolar Taiwan yang ditutup naik 0,16% dan yuan China yang menguat sebesar 0,11%.