Kurs Dollar AS Tembus Rp 17.701 Tekan Rupiah ke Rekor Terendah

Kurs Dollar AS Tembus Rp 17.701 Tekan Rupiah ke Rekor Terendah
Foto: Ilustrasi Kurs Dollar AS Tembus Rp 17.701 Tekan Rupiah ke Rekor Terendah.

Mata uang rupiah Indonesia dan rupee India kembali mengalami tekanan besar akibat penguatan dollar Amerika Serikat (AS). Konstelasi geopolitik di Iran yang belum mereda memicu ketidakpastian global yang mendalam.

Dilansir dari Money, nilai tukar dollar AS kini telah menyentuh kisaran Rp 17.701 dan 96,81 rupee India per dollar AS. Lonjakan harga energi mendorong investor untuk mengamankan aset mereka ke dalam bentuk dollar AS.

Tekanan geopolitik ini berujung pada merosotnya rupiah dan rupee hingga menyentuh level terendah baru sepanjang sejarah. Pasar global saat ini mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga di AS akibat inflasi yang terkerek oleh konflik tersebut.

Kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama memicu aksi jual obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 30 tahun bahkan meroket ke level tertinggi sejak 2007.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa AS mungkin perlu melakukan serangan susulan ke Iran. Kendati demikian, ia juga mengindikasikan bahwa pihak Teheran mulai menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan damai.

Penguatan dollar AS juga berimbas langsung pada pelemahan sejumlah mata uang utama dunia. Euro melemah ke posisi 1,16025 dollar AS per euro, sementara poundsterling Inggris tertahan di level 1,34 dollar AS.

Mata uang dollar Australia juga turun ke level 0,7105 dollar AS, diikuti dollar Selandia Baru yang berada di posisi 0,5834 dollar AS. Indeks dollar AS terhadap sekeranjang mata uang utama bertahan kokoh di level 99,306.

Proyeksi Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve

Pasar kini memperkirakan adanya peluang lebih dari 50 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Ekspektasi ini berbalik arah dibanding proyeksi sebelum konflik yang memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga.

Pelaku pasar keuangan global saat ini tengah menantikan rilis risalah rapat terakhir Federal Reserve. Ahli Strategi Mata Uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, memproyeksikan isi risalah tersebut akan cenderung ketat atau hawkish.

"Kami terus memperkirakan FOMC akan memulai siklus pengetatan pada bulan Desember," kata Kong.

Menurut penjelasan Kong, mayoritas pejabat Federal Reserve mulai mengkhawatirkan risiko inflasi yang tinggi sejak rapat pleno pada April lalu. Kondisi ini diperparah oleh harga minyak mentah dunia yang masih bertengger di level tinggi.

Saat ini, harga minyak Brent berada di level 110,46 dollar AS atau sekitar Rp 1,95 juta per barel. Hambatan logistik di Selat Hormuz menjadi pemicu utama belum normalnya pasokan komoditas energi global.

Potensi Intervensi Mata Uang Yen oleh Pemerintah Jepang

Keperkasaan dollar AS juga menyeret nilai tukar yen Jepang mendekati zona intervensi pemerintah pada kisaran 158,93 yen per dollar AS. Level psikologis 160 yen per dollar AS sebelumnya sempat memicu otoritas Jepang untuk turun tangan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan komentar yang dinilai membuka ruang bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga. Pasar mengartikan pernyataan tersebut sebagai bentuk dukungan implisit dari Washington.

Ahli Strategi Mata Uang OCBC, Christopher Wong, menilai pasar kini bersikap lebih berhati-hati terhadap risiko intervensi mendadak dari Tokyo.

"Dalam jangka pendek, volatilitas yang berlebihan adalah kuncinya sementara 160 sampai 161 tetap menjadi garis yang perlu diperhatikan," kata Wong.

"Risiko intervensi seharusnya membuat pasar lebih berhati hati dalam mengejar kenaikan dollar terhadap yen, tetapi kecuali imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dollar AS secara luas melemah, tindakan resmi mungkin hanya akan memperlambat pergerakan tersebut untuk sementara waktu, bukan membalikkannya," lanjut dia.

Artikel terkait

Rekomendasi