Kunjungan Museum Meningkat Wamenbud Giring Dorong Optimalisasi Artefak

Kunjungan Museum Meningkat Wamenbud Giring Dorong Optimalisasi Artefak
Foto: Ilustrasi Kunjungan Museum Meningkat Wamenbud Giring Dorong Optimalisasi Artefak.

Aktivitas berwisata ke museum dan cagar budaya kini semakin digemari oleh masyarakat, terutama di kawasan kota besar seperti Jakarta. Berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, saat ini terdapat sekitar 78 museum yang tercatat di wilayah ibu kota.

Tren positif ini terlihat dari padatnya kunjungan masyarakat di Museum Nasional Indonesia saat akhir pekan. Lonjakan tersebut menjadi indikator meningkatnya kesadaran serta ketertarikan publik terhadap kekayaan budaya nasional.

Seperti diberitakan oleh Detik Travel, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha mengonfirmasi adanya kenaikan signifikan pada angka kunjungan museum dan cagar budaya sepanjang tahun lalu.

"Di tahun 2024, jumlah kunjungan ke museum dan cagar budaya di bawah kendali Kementerian Kebudayaan itu sebanyak 2.254.384 pengunjung. Dan pada tahun 2025, angka itu meningkat menjadi 4.210.089 pengunjung, atau naik 86 persen," katanya dalam acara BRIN Goes to Industry 4 di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Kendati menunjukkan pertumbuhan yang masif, capaian tersebut dinilai belum cukup. Kementerian Kebudayaan menegaskan perlunya langkah strategis agar aset-aset sejarah tidak sekadar menjadi pajangan mati, melainkan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

"Namun tentu saja tugas kita tidak berhenti hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan. Kita tidak ingin aset-aset budaya kita menjadi dead monument. Museum, bangunan cagar budaya, situs sejarah, dan candi harus mampu menghadirkan manfaat nyata: ruang edukasi, sumber kesejahteraan, penggerak ekonomi kreatif, dan ruang tumbuhnya inovasi," ia melanjutkan.

Giring Ganesha menekankan bahwa kekuatan narasi pada sebuah artefak memegang peranan yang sangat krusial. Dalam kunjungannya ke beberapa museum, ia kerap menemukan petugas yang belum memahami latar belakang sejarah dari aset budaya yang mereka jaga.

Guna mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kebudayaan melibatkan peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi ini ditujukan untuk meneliti asal-usul serta menyusun narasi sejarah berdasarkan pengolahan data ilmiah.

"Satu, untuk bisa menentukan ini sebenarnya dari tahun berapa, umurnya berapa artefak ini, dari situ kita bisa cocokan lini masanya jadi kita bisa menciptakan cerita. Karena sebuah barang kalau nggak ada ceritanya, ya pasti nggak ada hasilnya," jelas Giring.

"Tapi kalau anak-anak bisa lihat 'oh ini dari tahun segini, ceritanya ini, oh ceritanya begini, artefaknya begini, artefaknya ini membantu dalam proses perjuangan' misalnya, itu narasi besar. Kita tahu bahwa semuanya suka dengan cerita. Itulah menurut saya salah satu peran BRIN untuk penentuan dan menciptakan yang membantu kita membuat narasi," lengkapnya.

Kerja sama dengan BRIN ini juga dipandang sangat strategis untuk mendukung upaya pelestarian aset kebudayaan. Selain itu, pemanfaatan dan pengembangan seluruh cagar budaya akan diselaraskan dengan amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.

Artikel terkait

Rekomendasi