Industri teknologi global menghadapi krisis pasokan prosesor (CPU) akut yang mengakibatkan gangguan rantai pasok produksi PC secara global sejak Februari 2026. Defisit ini dilaporkan lebih parah dibandingkan kelangkaan chip memori maupun kartu grafis yang terjadi sebelumnya.
Krisis pasokan tersebut memicu lonjakan harga perangkat keras di tingkat konsumen karena stok dari Intel dan AMD mulai menipis di pasaran. Dilansir dari Tekno, para pembeli bahkan dilaporkan kesulitan mendapatkan unit meskipun bersedia membayar dengan harga premium di atas normal.
Penyebab utama kelangkaan ini berakar pada pergeseran fokus produksi semikonduktor demi memenuhi kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Arsitektur AI model terbaru kini sangat bergantung pada performa CPU untuk mengelola aliran data dan otomatisasi sistem atau agentic AI.
Kondisi ini memaksa Intel dan AMD untuk memprioritaskan lini produksi mereka bagi chip data center seperti seri Intel Xeon Clearwater Forest dan AMD EPYC Venice. Langkah pragmatis tersebut diambil demi mengejar margin keuntungan yang lebih besar dari penyedia layanan cloud.
Akibatnya, jatah produksi prosesor kelas menengah yang biasanya digunakan oleh gamer dan kreator konten menjadi berkurang drastis. Kelangkaan ini berdampak langsung pada prediksi kenaikan harga CPU desktop di kisaran 15 hingga 30 persen karena minimnya ketersediaan barang.
Waktu tunggu pengiriman chip yang semula hanya memakan waktu dua minggu kini dilaporkan membengkak menjadi berbulan-bulan. Ketimpangan antara jumlah permintaan vendor perakit dengan jumlah aktual chip yang dikirimkan pun semakin lebar sejak awal tahun ini.
Vendor perangkat keras besar seperti ASUS dan Acer diestimasikan bakal menaikkan harga jual laptop hingga 30 persen pada model tertentu dalam waktu dekat. Pasar kini sangat bergantung pada keberhasilan Intel dalam menyempurnakan simpul fabrikasi Intel 18A untuk menormalkan pasokan jangka panjang.