Perayaan Iduladha tahun ini bergulir di bawah bayang-bayang tekanan krisis pangan global yang kian menguat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, disrupsi rantai pasok, dan efek perubahan iklim menempatkan ketahanan pangan sebagai isu krusial yang dihadapi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Seperti diberitakan oleh Media Indonesia, ibadah kurban dalam kondisi ini tidak sekadar bermakna spiritual semata. Momentum keagamaan tersebut juga membawa dimensi sosial yang kuat dalam menjaga stabilitas pangan masyarakat.
Penasihat DPP Persatuan Umat Islam, Prof Achmad Tjachja Nugraha, mengungkapkan bahwa Iduladha membawa pesan mendalam mengenai keadilan dan pemerataan distribusi pangan.
ÔÇ£Allah SWT menegaskan dalam Al-QurÔÇÖan, ÔÇÿDaging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Artinya, esensi kurban bukan hanya pada fisiknya saja, tetapi pada ketaqwaan. Implementasi ketaqwaan dapat berupa sejauhmana kita memiliki nilai kepedulian dan mendistribusikan dengan tepat,ÔÇØ ujar Prof Achmad Tjachja Nugraha di Bandung pada Selasa (26/5).
Kurban menjadi bentuk nyata sistem distribusi pangan berbasis umat yang bergerak serentak. Pola ini dinilai langsung menyentuh lapisan masyarakat yang paling membutuhkan bantuan.
ÔÇ£Di tengah krisis pangan global, kurban menunjukkan bahwa umat memiliki mekanisme untuk berbagi bagi kelompok yang paling rentan,ÔÇØ kata Prof Achmad Tjachja Nugraha.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memaparkan bahwa jutaan paket daging kurban tersalurkan dalam waktu singkat. Pergerakan logistik ini memanfaatkan jaringan masjid, pesantren, serta komunitas lokal di berbagai daerah.
Sistem distribusi tersebut dipandang sebagai kekuatan sosial mandiri. Keunggulan ini jarang dijumpai dalam mekanisme formal bentukan lembaga konvensional.
ÔÇ£Kita melihat bagaimana distribusi ini berjalan cepat, tanpa birokrasi panjang, dan relatif tepat sasaran. Ini adalah kekuatan sosial umat yang luar biasa,ÔÇØ tutur Prof Achmad Tjachja Nugraha.
Nilai-nilai luhur ibadah kurban berkaitan erat dengan prinsip keadilan sosial yang diajarkan dalam Islam. Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan umat untuk saling berbagi, terutama kepada kelompok yang kekurangan.
Menurut Prof Achmad Tjachja Nugraha, perayaan Iduladha merupakan Ishlah Tsamaniyah yang membawa dampak positif nyata. Hal itu mencakup perbaikan ekonomi (ishlah iqtishod) serta pembenahan kehidupan sosial (ishlah mujtama').
ÔÇ£Dalam QS. Al-Hasyr ayat 7 ditegaskan agar harta itu tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja. Ini sejalan dengan semangat kurban, yaitu memastikan distribusi pangan lebih merata dan dapat dirasakan oleh mereka,ÔÇØ jelas Prof Achmad Tjachja Nugraha.
Optimalisasi Potensi untuk Ketahanan Pangan
Kendati demikian, potensi besar dari ibadah kurban dianggap belum tergali secara maksimal oleh umat. Selama ini, aktivitas kurban mayoritas masih dipandang sebagai ritual tahunan yang efeknya berhenti pascapembagian daging selesai.
ÔÇ£sejatinya kita dapat melakukan sedeqah selain berkurban dengan membagikan makanan lainnya termasuk daging bukan hanya saat Idul Adha saja, dan hal ini dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan,ÔÇØ ucap Prof Achmad Tjachja Nugraha.
Momentum Iduladha disarankan menjadi pemicu untuk memperkuat sektor peternakan lokal di tanah air. Langkah ini strategis untuk membangun kemandirian ekosistem pangan nasional.
ÔÇ£Momentum Idul Adha seharusnya juga mendorong penguatan peternak lokal agar rantai pasok tidak bergantung pada luar negeri,ÔÇØ kata Prof Achmad Tjachja Nugraha.
Kedaulatan pangan suatu bangsa tidak hanya bersandar pada kapasitas produksi komoditas. Faktor distribusi yang berkeadilan dan kepedulian sosial antarsesama menjadi pilar penentu yang tidak kalah penting.
ÔÇ£Idul Adha mengajarkan bahwa ketahanan itu lahir dari kebersamaan dan kepedulian. Inilah nilai yang sangat relevan di tengah situasi global yang tidak menentu,ÔÇØ ujar Prof Achmad Tjachja Nugraha.