Krisis Pangan Global 2026 Ancam Tambahan 45 Juta Orang Kelaparan

Krisis Pangan Global 2026 Ancam Tambahan 45 Juta Orang Kelaparan
Foto: Ilustrasi Krisis Pangan Global 2026 Ancam Tambahan 45 Juta Orang Kelaparan.

Laporan terbaru World Food Programme (WFP) memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko mendorong 45 juta orang tambahan ke dalam kondisi kelaparan akut pada 2026. Lonjakan angka rawan pangan tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga energi dunia secara signifikan.

Kondisi ini diprediksi akan menciptakan rekor baru jumlah penduduk dunia yang mengalami krisis pangan jika konflik berlangsung dalam jangka panjang. Situasi tersebut, sebagaimana dilansir dari Investortrust, kini menjadi isu strategis yang mempengaruhi stabilitas ekonomi dan sosial di berbagai belahan dunia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan tanggapan serius mengenai ancaman tersebut pada Senin (23/03/2026). Ia menekankan pentingnya kemandirian nasional dalam menghadapi gejolak global yang terus meningkat.

"Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain," ujar Mentan Amran.

Menurut penjelasan Amran, faktor kenaikan harga energi dan hambatan pada jalur pelayaran internasional menjadi pemicu utama. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan biaya logistik serta potensi inflasi pangan global yang serupa dengan dampak perang Rusia-Ukraina tahun 2022.

"Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri," kata Mentan Amran.

Pemerintah Indonesia menilai posisi dalam negeri saat ini sudah berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan. Fokus pembangunan diarahkan pada sistem pertanian modern yang berkelanjutan guna mencapai target menjadi lumbung pangan dunia.

"Kita harus optimis. Indonesia punya lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia. Kalau semua dimaksimalkan, swasembada bukan mimpi, lumbung pangan dunia juga bukan hal yang mustahil, salah kalau kekuatan ini kita biarkan," tegasnya.

Strategi pencapaian swasembada dilakukan melalui kombinasi program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Upaya ini mencakup peningkatan produktivitas lahan melalui mekanisasi dan benih unggul, serta perluasan area tanam melalui optimalisasi lahan rawa dan cetak sawah baru.

Artikel terkait

Rekomendasi