Krisis Memori Global Picu Penurunan Pengiriman Ponsel Pintar Sepanjang 2026

Krisis Memori Global Picu Penurunan Pengiriman Ponsel Pintar Sepanjang 2026
Foto: Ilustrasi Krisis Memori Global Picu Penurunan Pengiriman Ponsel Pintar Sepanjang 2026.

Pasar ponsel pintar global mengalami penyusutan signifikan pada kuartal pertama 2026 akibat krisis komponen memori yang semakin parah. Fenomena ini berdampak langsung pada volume pengiriman perangkat ke seluruh dunia, seperti dikutip dari Tekno.

Laporan terbaru dari firma riset IDC menunjukkan adanya penurunan pasar sebesar 4,1 persen. Sementara itu, Counterpoint Research mencatatkan angka penurunan yang lebih dalam, yakni mencapai 6 persen pada periode Januari hingga Maret 2026.

IDC mengungkapkan bahwa total perangkat yang berhasil dikirimkan selama periode tersebut berjumlah 289,7 juta unit. Kelangkaan chip memori dituding menjadi penyebab utama di balik lesunya performa industri smartphone kali ini.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menjelaskan bahwa keterbatasan stok memori memaksa para produsen untuk memangkas jumlah pengiriman perangkat. Hal ini terjadi karena biaya bahan baku melonjak tajam seiring terbatasnya pasokan.

"Ketersediaan memori yang terbatas memaksa pemangkasan pengiriman, sementara harga memori yang jauh lebih tinggi mendorong kenaikan biaya bahan baku dan mendesak kenaikan harga oleh banyak merek ternama," kata Popal.

Popal memprediksi lonjakan harga ponsel sekitar 40-50 persen akan melanda sejumlah negara berkembang. Konsumen di wilayah tersebut dikenal sangat sensitif terhadap perubahan harga perangkat di pasar.

Senada dengan IDC, Counterpoint Research mengidentifikasi kelangkaan memori tipe DRAM dan NAND sebagai pemicu utama. Kondisi ini dipicu oleh pergeseran prioritas pasokan komponen dunia.

Produsen komponen saat ini lebih mendahulukan pemenuhan kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI) dibandingkan perangkat konsumen. Hal tersebut membuat biaya produksi atau Bill of Materials (BOM) bagi vendor smartphone meningkat pesat.

Dampak pada Segmen Menengah dan Murah

Analis Senior Counterpoint Research, Shilpi Jain, menyebutkan bahwa tekanan biaya produksi lebih dirasakan pada ponsel segmen entry-level dan menengah. Sebaliknya, perangkat di segmen premium cenderung lebih stabil menghadapi fluktuasi biaya ini.

"Tekanan ini lebih terasa di segmen entry-level dan menengah. Sementara segmen premium relatif lebih tahan terhadap tekanan dari kenaikan biaya produksi ini," kata Jain.

Selain masalah komponen, daya beli masyarakat juga melemah akibat ketidakpastian ekonomi global. Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperburuk kondisi distribusi dan minat belanja konsumen dunia.

Krisis memori ini diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Counterpoint memprediksi tekanan pasar akan terus berlanjut sepanjang 2026, dengan krisis stok memori yang berpotensi bertahan hingga pengujung 2027.

Perubahan Strategi Vendor Ponsel

Menghadapi situasi sulit ini, para produsen mulai mengubah arah kebijakan bisnis mereka. Fokus perusahaan kini bergeser dari mengejar volume penjualan menjadi pengejaran nilai atau margin keuntungan yang lebih sehat.

Beberapa strategi yang diambil meliputi pengurangan model ponsel dengan keuntungan rendah serta peningkatan spesifikasi pada perangkat tertentu. Vendor juga mulai mengandalkan pendapatan dari sektor layanan dan ekosistem perangkat.

Popal menambahkan bahwa tahun 2026 menjadi periode kritis bagi para produsen untuk melakukan inovasi biaya. Efisiensi pada sektor logistik, energi, dan pemasaran menjadi langkah yang mulai banyak diterapkan oleh berbagai merek.

"Tahun ini merupakan titik balik kritis bagi vendor untuk berinovasi karena meningkatnya biaya komponen, energi, dan logistik akibat perang di Timur Tengah," ujar Popal.

Kondisi ini juga diperkirakan akan meningkatkan minat masyarakat terhadap perangkat bekas atau refurbished. Ponsel bekas menjadi alternatif logis bagi konsumen yang membutuhkan perangkat mumpuni dengan harga tetap terjangkau.

Keluhan dari Petinggi Xiaomi dan Nothing

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, memberikan rincian nyata mengenai dampak finansial dari krisis ini terhadap perusahaannya. Ia mengungkapkan bahwa biaya belanja komponen memori meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

Xiaomi harus mengeluarkan dana tambahan sebesar 1.500 yuan atau sekitar Rp 3,7 juta untuk setiap paket memori RAM 12 GB dan penyimpanan 512 GB. Angka tersebut merupakan perbandingan harga dengan kuartal pertama tahun 2025.

"Kenaikan harga memori akhir-akhir ini memang sangat jauh dari ekspektasi, dengan lonjakan harga empat kali lipat dibanding kuartal pertama tahun lalu," kata Weibing melalui media sosial Weibo.

Lonjakan ini berdampak langsung pada lini produk Redmi yang mengusung konsep harga terjangkau. Akibatnya, kenaikan harga jual pada ponsel submerek tersebut tidak dapat dihindarkan.

CEO Nothing, Carl Pei, juga menyuarakan kekhawatiran serupa pada awal tahun ini. Menurutnya, industri smartphone kini harus berebut sumber daya memori dengan infrastruktur pendukung AI yang permintaannya sangat tinggi.

"Untuk pertama kalinya, smartphone bersaing langsung dengan infrastruktur AI dan harga memori melonjak tajam, sebagai imbasnya," kata Pei melalui akun X resminya.

Pei menegaskan bahwa strategi spesifikasi tinggi dengan harga murah akan sulit ditemukan tahun ini. Ia memprediksi kenaikan harga setidaknya 20 persen akan terjadi pada segmen ponsel kelas bawah dan menengah.

"Hasilnya, beberapa segmen, terutama entry-level dan mid-range, akan naik 20 persen bahkan lebih, dan produsen yang selama ini mendominasi pasar ini akan kepayahan," kata Pei.

Artikel terkait

Rekomendasi