Pasokan bahan bakar pesawat global mulai terganggu akibat pecahnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Krisis ini mengancam kelancaran perjalanan udara di wilayah Asia dan Eropa menjelang musim panas.
Dilansir dari Detik Finance, International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa ekspor dari kawasan Teluk Persia merupakan tulang punggung pasokan avtur dunia sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu.
Kondisi memburuk setelah Iran melakukan blokade terhadap Selat Hormuz yang menyebabkan pengiriman bahan bakar jet terhenti total. Eropa menjadi kawasan terdampak paling parah karena menggantungkan 20% kebutuhan bahan bakarnya dari wilayah tersebut.
Meskipun terdapat sumber alternatif dari kilang di India, Korea Selatan, dan China, fasilitas tersebut nyatanya tetap bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Sekitar 90% minyak dari Teluk sebelumnya mengalir ke Asia melalui jalur Selat Hormuz.
Kini, kilang-kilang di Asia mengalami hambatan besar dalam memenuhi permintaan pasar domestik maupun internasional. Data menunjukkan ekspor avtur global merosot tajam sebesar 30% menjadi 1,3 juta barel per hari pada April, dibandingkan 1,9 juta barel pada tahun sebelumnya.
"Ini seperti kecelakaan mobil dalam gerakan lambat," ujar Matt Smith, Direktur Riset Komoditas Kpler, sebagaimana dikutip dari CNBC pada Kamis (7/5/2026).
Penurunan volume pemuatan bahan bakar jet ke kapal tanker juga tercatat sangat drastis. Pekan lalu, angka tersebut anjlok hingga 50% menjadi hanya 18,6 juta barel dari posisi 37,8 juta barel pada periode yang sama tahun lalu.
Maskapai Mulai Pangkas Jadwal Penerbangan
Airports Council International Europe memberikan peringatan keras bahwa Uni Eropa berisiko menghadapi kelangkaan sistemik jika jalur Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Tekanan ini mulai memaksa maskapai melakukan penyesuaian operasional yang signifikan.
Lufthansa telah memutuskan untuk memangkas 20.000 jadwal penerbangan jarak pendek hingga bulan Oktober mendatang. Langkah efisiensi ini diambil sebagai dampak langsung dari biaya operasional yang membengkak akibat mahalnya bahan bakar.
Berdasarkan data International Air Transport Association (IATA), harga bahan bakar jet di Benua Biru telah melambung dua kali lipat dalam setahun terakhir. Per 1 Mei, harga menyentuh angka US$ 187 per barel.
CEO Chevron, Mike Wirth, memprediksi bahwa masalah ketersediaan stok akan menjadi tantangan yang semakin berat dalam beberapa pekan ke depan.
"Sinyal harga di beberapa wilayah sudah sangat ekstrem dan yang benar-benar mereka khawatirkan sekarang adalah pasokan," kata Mike Wirth.
Upaya Pencarian Sumber Alternatif
Pasar penerbangan sempat memiliki waktu bernapas karena adanya pengiriman dari kapal tanker yang berangkat sebelum konflik pecah. Namun, stok cadangan tersebut diperkirakan habis seiring berakhirnya masa pengiriman pada Maret dan April.
Uni Eropa kini tengah berupaya keras mengamankan pasokan alternatif, dengan Amerika Serikat menjadi harapan utama. Kilang-kilang besar AS seperti Marathon Petroleum dan Valero dilaporkan sedang memacu kapasitas produksi avtur mereka.
Lonjakan ekspor dari Amerika Serikat ke Eropa sudah terlihat nyata. Pada April lalu, pengiriman melonjak lebih dari 400% menjadi 94.000 barel per hari jika dibandingkan dengan volume pada awal masa perang di bulan Februari.