Kredit Macet Pinjol Anak Muda Capai 48 Persen

Kredit Macet Pinjol Anak Muda Capai 48 Persen
Foto: Ilustrasi Kredit Macet Pinjol Anak Muda Capai 48 Persen.

Kondisi kesehatan finansial generasi muda Indonesia kini memerlukan perhatian serius akibat kemudahan akses pembiayaan digital. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilansir dari Investortrust, sebesar 48,65% kredit macet pinjaman online per Maret 2026 didominasi oleh kelompok usia 19ÔÇô34 tahun.

Pada periode yang sama, outstanding pinjol nasional menembus angka Rp101,03 triliun atau mengalami pertumbuhan 26,25% secara tahunan. Sementara itu, total utang layanan buy now pay later (BNPL) telah menyentuh Rp28,3 triliun yang berasal dari 30,81 juta pengguna.

Tingginya akses terhadap layanan keuangan digital ini dinilai memperlihatkan pentingnya kedisiplinan pengelolaan keuangan sejak dini. Guna membentuk kebiasaan finansial yang lebih sehat, INDODAX mendorong generasi muda menerapkan strategi investasi rutin seperti Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu metode investasi berkala dengan nominal tetap secara konsisten untuk aset jangka panjang.

Chief Marketing Officer INDODAX Aloysia Dian berpendapat bahwa tingginya penggunaan pinjol serta paylater di kalangan anak muda mencerminkan adanya ketimpangan. Hal ini terjadi antara pola konsumsi digital dengan kesiapan dalam membangun kondisi finansial jangka panjang.

"Generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi dan layanan keuangan digital. Namun di saat yang sama, banyak yang belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten. Padahal, membangun kondisi finansial yang sehat tidak selalu harus dimulai dari nominal besar. Langkah sederhana seperti menyisihkan setidaknya 5% dana dingin dari penghasilan untuk investasi rutin dapat membentuk disiplin finansial dalam jangka panjang," ujar Aloysia dalam siaran pers, Selasa (20/5/2026).

Instrumen keuangan seperti pinjaman online dan layanan BNPL pada dasarnya dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Kendati demikian, gaya hidup serba instan membuat generasi muda rentan terjebak perilaku konsumtif yang berpotensi mengganggu stabilitas finansial masa depan.

Dampak Terhadap Rekam Jejak Finansial

Tantangan dalam pengelolaan utang konsumtif ini juga terlihat dari rasio kredit bermasalah pinjol (TWP90) yang dicatat OJK per Maret 2026, yakni mencapai 4,52%. Angka ini menjadi indikator nyata dari tantangan yang dihadapi masyarakat dalam mengelola kredit digital.

Kedisiplinan pembayaran dan riwayat pinjaman akan membentuk rekam jejak finansial seseorang. Rekam jejak tersebut menjadi faktor penentu dalam mengakses layanan keuangan di masa mendatang, termasuk pengajuan KPR, kredit kendaraan, hingga pembiayaan usaha.

"Banyak generasi muda belum menyadari bahwa riwayat finansial hari ini dapat berdampak pada akses keuangan mereka di masa depan. Karena itu, penting untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, tidak hanya dalam mengelola konsumsi, tetapi juga dalam berinvestasi dan membangun aset secara konsisten," lanjut Aloysia.

Artikel terkait

Rekomendasi