Kredit Macet Pinjol Anak Muda Melonjak, OJK Catat Data TWP90 Capai 4,52 Persen

Kredit Macet Pinjol Anak Muda Melonjak, OJK Catat Data TWP90 Capai 4,52 Persen
Foto: Ilustrasi Kredit Macet Pinjol Anak Muda Melonjak, OJK Catat Data TWP90 Capai 4,52 Persen.

Lonjakan penggunaan pinjaman online (pinjol) serta layanan buy now pay later (BNPL) di kalangan generasi muda kini tengah memicu perhatian serius. Kemudahan dalam mengakses layanan keuangan digital tersebut dinilai menjadi pendorong perilaku konsumtif yang berisiko mengganggu stabilitas finansial jangka panjang.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Maret 2026, sebanyak 48,65% dari total kredit macet pinjol disumbang oleh kelompok masyarakat berusia 19 hingga 34 tahun, seperti dilansir dari Keuangan. Pada periode yang sama, nilai outstanding pinjaman online menyentuh angka Rp 101,03 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 26,25% secara tahunan.

Di sisi lain, total utang pada layanan BNPL tercatat menembus Rp 28,3 triliun yang tersebar di antara 30,81 juta pengguna aktif. Adapun rasio kredit bermasalah atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) untuk sektor pinjol berada pada level 4,52%.

Kondisi ini merefleksikan besarnya eksposur generasi muda terhadap utang konsumtif seiring derasnya penetrasi ekosistem digital. Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menilai situasi ini memperlihatkan adanya celah lebar antara kepraktisan konsumsi digital dengan kesiapan mengelola keuangan secara jangka panjang.

"Banyak yang sudah dekat dengan layanan keuangan digital, tapi belum punya kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten," ujarnya.

Aloysia Dian menambahkan bahwa langkah kecil seperti menyisihkan sebagian kecil pendapatan untuk alokasi investasi dapat membantu mengasah kedisiplinan finansial sejak dini.

Pihak Indodax mengimbau generasi muda untuk menginisiasi kebiasaan berinvestasi secara rutin lewat metode Dollar-Cost Averaging (DCA). Strategi investasi berkala dengan nominal tetap ini dipandang efektif untuk mengonstruksi aset jangka panjang dengan cara yang konsisten.

Perusahaan juga menegaskan bahwa pinjol maupun BNPL pada dasarnya merupakan instrumen keuangan yang dapat mendatangkan manfaat jika digunakan secara bijak. Kendati demikian, tanpa adanya manajemen keuangan yang disiplin, kemudahan akses kredit tersebut justru berisiko memperlebar potensi jeratan utang konsumtif.

Selain risiko finansial langsung, catatan riwayat pinjaman serta tingkat kepatuhan dalam pembayaran utang dipastikan bakal memengaruhi aksesibilitas keuangan di masa mendatang. Hal ini mencakup proses pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, hingga fasilitas pembiayaan modal usaha.

Artikel terkait

Rekomendasi