Akselerasi penyaluran kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan tren positif pada awal tahun 2026. Seperti diberitakan oleh Investortrust, realisasi pembiayaan secara bank only tumbuh hingga 15,62% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.511,4 triliun per Januari 2026.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengungkapkan, pertumbuhan tersebut mempertegas komitmen pihaknya dalam menyalurkan kredit ke sektor produktif, termasuk UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) dan pelaku usaha di berbagai daerah.
"Pertumbuhan ini menjadi wujud sinergi yang terintegrasi antara strategi bisnis, pengelolaan risiko, dan penguatan ekosistem. Kami memastikan akselerasi yang bertumbuh tetap berjalan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan," ujarnya.
Kualitas aset perseroan juga berada dalam kondisi yang sehat. Hal ini ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang sanggup ditekan hingga ke level 0,97% per Januari 2026, mengalami penurunan sebesar 3 basis poin (bps) secara tahunan.
Ekspansi pembiayaan yang agresif ini berdampak langsung pada penguatan struktur keuangan internal. Pembukuan total aset Bank Mandiri melonjak menjadi Rp 2.191,9 triliun per Januari 2025, atau mencerminkan kenaikan sebesar 13,96% (yoy).
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) secara bank only menembus angka Rp 1.635,5 triliun pada Januari 2026 melalui pertumbuhan sebesar 17,29% (yoy). Komposisi simpanan ini didominasi oleh dana murah atau current account and saving account (CASA) dengan pangsa mencapai 73%.
Menurut Novita, laba bersih secara month to date (MTD) tumbuh double digit, didorong peningkatan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 10.2% (yoy). Capaian tersebut ditopang penurunan biaya dana atau cost of fund sebesar 27 basis poin dibanding bulan sebelumnya, menjadi 2,06% pada Januari 2026.
Efisiensi operasional internal juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income recurring tumbuh 16,1% (yoy), yang sekaligus memperkuat rasio cost to income ratio (CIR) ke angka 37,75% dari posisi bulan sebelumnya yang sempat berada di atas 40%.
"Tercermin dari rasio cost to income ratio (CIR) yang membaik menjadi 37,75%, turun 3,44% dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di atas 40%," kata Novita.
Lonjakan performa keuangan ini tidak lepas dari meluasnya digitalisasi transaksi nasabah. Volume transaksi melalui aplikasi LivinÔÇÖ by Mandiri melesat hingga 49,3% (yoy), disusul oleh aktivitas Kopra by Mandiri yang naik 27% (yoy), serta sektor treasury yang tumbuh 33% (yoy).
Novita mengatakan, penguatan ekosistem digital menjadi bagian dari strategi menciptakan keunggulan berkelanjutan dan memperluas inklusi keuangan melalui integrasi layanan LivinÔÇÖ by Mandiri untuk nasabah ritel, Kopra by Mandiri untuk pelaku usaha dan pebisnis, serta LivinÔÇÖ Merchant dalam mendukung digitalisasi transaksi UMKM.
"Akselerasi ekosistem digital kami arahkan untuk menghadirkan layanan yang menyeluruh dan terintegrasi bagi masyarakat dan nasabah. Melalui konektivitas yang semakin kuat antarsegmen, kami ingin memastikan setiap kebutuhan transaksi dan pembiayaan dapat terpenuhi secara lebih mudah, cepat, dan relevan dengan perkembangan ekonomi nasional," ucapnya.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan mitra strategis pemerintah, perseroan berkomitmen mengalirkan likuiditas ke sektor-sektor prioritas. Fokus utama ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi makro sekaligus memberikan pemberdayaan konkret kepada pelaku UMKM.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung agenda pembangunan nasional," ujarnya.
"Dengan fundamental yang solid, efisiensi yang terjaga, serta strategi yang adaptif, kami optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan secara healthy, inklusif, dan berkelanjutan sepanjang 2026," sambung Novita.