Kontraksi PMI Manufaktur Indonesia April 2026

Kontraksi PMI Manufaktur Indonesia April 2026
Foto: Ilustrasi Kontraksi PMI Manufaktur Indonesia April 2026.

Bisnis.com, JAKARTA ÔÇöKontraksi Purchasing ManagersÔÇÖ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke bawah level 50 pada April 2026 dinilai tidak sekadar mencerminkan pola musiman pasca-Lebaran, melainkan tekanan yang lebih kompleks di sektor industri.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pelemahan PMI setelah periode Lebaran memang kerap terjadi setiap tahun. Namun, karakter kontraksi kali ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

Menurut Yusuf, kondisi tersebut tecermin dari mulai menyusutnya produksi di tengah pesanan baru yang masih bertahan. Permintaan yang relatif terjaga itu lebih banyak dipicu pembelian antisipatif pelaku usaha untuk menghindari kenaikan harga dan gangguan pasokan.

Di sisi lain, biaya input melonjak tajam dan diikuti kenaikan harga jual secara agresif. ÔÇ£Kombinasi ini mencerminkan tekanan mirip stagflasi, yaitu ketika biaya naik tetapi aktivitas ekonomi justru melemah,ÔÇØ ujar Yusuf kepada Bisnis, Senin (4/5/2026).

Tekanan biaya tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri. Gangguan rantai pasok global, terutama terkait konflik di Timur Tengah, turut memengaruhi distribusi energi dan bahan baku.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi domestik memperbesar tekanan melalui peningkatan biaya logistik dan produksi.

Dalam kondisi ini, menurutnya, industri membutuhkan waktu untuk menyesuaikan struktur biaya. ÔÇ£Sehingga PMI berisiko bertahan di bawah 50 dalam beberapa bulan ke depan,ÔÇØ sebutnya.

Lebih lanjut, ia menilai episode ini kembali menyoroti kerentanan struktural manufaktur nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor. Sejumlah sektor seperti tekstil, plastik, petrokimia, baja, hingga otomotif masih sangat sensitif terhadap gangguan pasokan global dan fluktuasi harga internasional.

ÔÇ£Ketika jalur pasok terganggu, dampaknya langsung terasa pada utilisasi produksi,ÔÇØ jelas Yusuf.

Penurunan utilisasi, lanjutnya, mulai terlihat di beberapa sektor, khususnya industri tekstil yang mencatat penurunan cukup dalam dibandingkan kondisi normal. Jika tekanan berlanjut, utilisasi industri secara keseluruhan berpotensi turun dalam satu kuartal.

Dari sisi operasional, tanda-tanda tekanan juga semakin nyata. Persediaan bahan baku mulai menipis karena digunakan untuk menjaga produksi jangka pendek, sementara stok barang jadi justru meningkat akibat belum terserap pasar.

Pada saat yang sama, pengurangan tenaga kerja mulai terjadi. ÔÇ£Tiga indikator ini biasanya mencerminkan proses penyesuaian kapasitas produksi ke level yang lebih rendah, bukan sekadar fluktuasi sementara,ÔÇØ tegas Yusuf.

Waspada Margin dan Permintaan Turun

Yusuf menyampaikan, tekanan terhadap margin perusahaan menjadi faktor kunci dalam dinamika ini. Tidak semua sektor memiliki ruang untuk menaikkan harga jual.

Adapun, industri makanan dan minuman relatif lebih mampu bertahan karena ditopang pasar domestik, sementara sektor seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur menghadapi persaingan ketat dengan produk impor murah.

Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat melalui dua jalur, yakni kenaikan harga barang yang mendorong inflasi serta penurunan pendapatan akibat pengurangan tenaga kerja atau jam kerja.

ÔÇ£Risiko yang muncul adalah terbentuknya lingkaran negatif di mana permintaan turun, produksi dikurangi, tenaga kerja dipangkas, dan pada akhirnya permintaan kembali melemah,ÔÇØ terangnya.

Tekanan pada tenaga kerja juga sudah mulai terlihat secara nyata. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bertambah dan berpotensi meningkat jika kondisi tidak membaik.

Selain itu, terdapat pengurangan jam kerja dan kontrak yang tidak diperpanjang yang sering tidak tercatat dalam statistik resmi, tetapi tetap berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga.

Dari sisi investasi sektor manufaktur, Yusuf melihat respons pelaku usaha cenderung selektif di tengah kondisi ini. Investasi yang bersifat siklikal berpotensi tertunda, sementara investasi berbasis faktor struktural seperti hilirisasi masih berjalan meskipun lebih hati-hati.

ÔÇ£Segmen yang paling rentan adalah usaha menengah dan kecil yang sensitif terhadap perubahan biaya pembiayaan dan arus kas,ÔÇØ tambahnya.

Untuk menjaga momentum, Yusuf menilai kebijakan pemerintah perlu difokuskan pada penguatan permintaan domestik. Percepatan belanja pemerintah serta stimulus konsumsi dinilai penting untuk menjaga utilisasi industri.

Di sisi lain, stabilisasi harga energi dan pengawasan terhadap praktik impor juga diperlukan guna meredam tekanan biaya di sektor manufaktur.

Artikel terkait

Rekomendasi