Konsumen Beralih ke BBM Subsidi Akibat Kenaikan Harga Minyak Dunia

Konsumen Beralih ke BBM Subsidi Akibat Kenaikan Harga Minyak Dunia
Foto: Ilustrasi Konsumen Beralih ke BBM Subsidi Akibat Kenaikan Harga Minyak Dunia.

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi telah memicu perubahan perilaku konsumen di Indonesia. Alih-alih mengurangi mobilitas, banyak pemilik kendaraan kini memilih untuk menurunkan jenis bahan bakar yang mereka gunakan ke kelas yang lebih murah.

Fenomena perpindahan ini dikonfirmasi oleh Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida. Seperti dikutip dari Lestari, tren ini terlihat dari peningkatan penggunaan BBM bersubsidi oleh kelompok masyarakat yang sebelumnya memakai produk kualitas tinggi.

"Dampak yang mungkin tidak semua orang menyangka adalah masyarakat men-switch mobilnya, yang tadinya hanya mau dengan jenis BBM non-subsidi, sekarang merelakan mau memakai BBM subsidi," ujar Tenny.

Menurut Tenny, perubahan harga yang signifikan tidak secara otomatis menurunkan angka konsumsi energi secara nasional. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemilik kendaraan, termasuk kategori mobil mewah, mulai mengonsumsi BBM dengan angka oktan yang lebih rendah.

"Faktanya memang tidak ada perubahan konsumsi. Yang tadinya memakai Pertadex, sekarang menurunkan standar," kata Tenny.

Data internal menunjukkan hampir satu juta pengguna baru telah mendaftarkan diri pada akun MyPertamina. Langkah ini dilakukan demi mendapatkan akses resmi untuk membeli BBM jenis bersubsidi di tengah tekanan harga energi.

Harga BBM non-subsidi tercatat telah mengalami penyesuaian naik sebanyak dua kali dalam periode kurang dari sebulan. Kondisi ini dipicu oleh meroketnya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Jika konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berlangsung lebih dari satu semester, Indonesia diprediksi akan menghadapi tekanan berat. Kombinasi kenaikan minyak global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan biaya operasional yang tinggi menjadi tantangan bagi pemerintah.

Meskipun harga meningkat, kepadatan lalu lintas di kota besar seperti Jakarta dan Bandung tetap tinggi. Hal ini menandakan kebutuhan bahan bakar tidak berkurang, namun beban finansial konsumen dialihkan ke sektor subsidi.

Rencana Pembatasan dan Inovasi Energi Hijau

Merespons gelombang perpindahan konsumen tersebut, pihak Pertamina tengah melakukan evaluasi mendalam terkait skema penyaluran di lapangan. Pengaturan volume pembelian menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan agar subsidi tetap tepat sasaran.

"Kami sedang mengkaji pembatasan jumlah BBM subsidi untuk setiap konsumen," ujarnya.

Di sisi lain, Pertamina memperluas jangkauan impor minyak mentah dari Afrika dan Amerika Serikat guna memperkuat ketahanan stok nasional. Penambahan fasilitas penyimpanan terapung juga dilakukan untuk mengoptimalkan fleksibilitas operasi kilang.

Sebagai langkah transisi energi, Pertamina juga mulai menyiapkan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Inovasi ini melibatkan penggunaan campuran minyak jelantah sekitar 1 hingga 3 persen dalam komponen bahan bakar pesawat.

"Kalau berhasil, komposisi SAF memang masih didominasi 97 persen bahan bakar fosil, tetapi ini tetap menjadi salah satu langkah menuju energi yang lebih hijau," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi