Konflik Timur Tengah Tekan Industri Petrokimia dan Penerbangan Global

Konflik Timur Tengah Tekan Industri Petrokimia dan Penerbangan Global
Foto: Ilustrasi Konflik Timur Tengah Tekan Industri Petrokimia dan Penerbangan Global.

Konflik bersenjata di Timur Tengah yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz mulai menekan sektor petrokimia dan penerbangan global akibat kelangkaan pasokan minyak mentah. Dilansir dari Money, International Energy Agency (IEA) melaporkan gangguan distribusi ini memicu lonjakan harga energi yang signifikan pada Jumat (15/5/2026).

Laporan pasar minyak IEA edisi Mei 2026 memproyeksikan permintaan minyak dunia bakal turun 420.000 barel per hari (bph) menjadi 104 juta bph sepanjang tahun ini. Angka tersebut tercatat 1,3 juta bph lebih rendah dibandingkan estimasi sebelum pecahnya konflik di kawasan Teluk.

Sektor petrokimia menjadi pihak yang paling terdampak akibat hilangnya pasokan bahan baku utama seperti LPG, etana, dan nafta dari Timur Tengah. Penurunan konsumsi nafta di Jepang bahkan menyentuh angka 25 persen karena para operator memangkas kapasitas operasional demi menekan biaya produksi.

"Sektor petrokimia dan penerbangan saat ini paling terdampak, tetapi harga yang lebih tinggi, lingkungan ekonomi yang lebih lemah, dan langkah-langkah penghematan permintaan akan semakin berdampak pada penggunaan bahan bakar," tulis IEA.

Lembaga tersebut juga mencatat adanya penghentian produksi minyak global mencapai 12,8 juta bph sejak peperangan dimulai. Kondisi ini diperparah dengan volume ekspor LPG melalui Selat Hormuz yang anjlok drastis dari 1,5 juta bph pada 2025 menjadi hanya 270.000 bph pada April 2026.

"Untuk saat ini, kerugian paling tajam terlihat di sektor petrokimia di mana ketersediaan bahan baku semakin terbatas," tulis IEA.

IEA menambahkan bahwa keterbatasan suplai plastik dan serat akan mulai merambat ke sektor manufaktur serta konstruksi. Hal ini disebabkan oleh menipisnya stok global akibat hilangnya jalur distribusi dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.

"Kekurangan plastik dan serat, yang diperparah oleh hilangnya ekspor ke negara-negara Teluk, akan mulai membebani sektor-sektor seperti manufaktur, pertanian, dan konstruksi seiring menipisnya persediaan," tulis IEA.

Sektor penerbangan turut mengalami tekanan hebat setelah harga avtur sempat melonjak hingga 209 dollar AS per barel pada awal April 2026. Penutupan bandara di Iran, Irak, dan Kuwait hingga awal Mei mengakibatkan aktivitas lalu lintas udara global terkontraksi untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

"Penyerapan avtur/minyak tanah merupakan produk lain yang paling langsung terpengaruh," ungkap IEA.

Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa margin kilang melonjak hingga 320 persen di tengah krisis ini. Selain kenaikan harga, pengalihan jalur penerbangan demi menghindari wilayah konflik menjadi faktor utama yang menghambat permintaan bahan bakar pesawat.

"Aktivitas penerbangan juga terdampak, dengan kombinasi harga yang lebih tinggi dan hilangnya penerbangan melalui hub-hub utama di Teluk yang menjadi hambatan besar bagi permintaan avtur/kerosen," ungkap IEA.

Kepala IATA Willie Walsh memprediksi bahwa tarif tiket pesawat akan mengalami kenaikan pada musim liburan mendatang. Hal ini dipicu oleh kegagalan pasokan pengganti dari wilayah lain dalam menutupi kekurangan avtur yang biasanya dipasok oleh Timur Tengah.

"Kelangkaan avtur akan mendorong kenaikan harga tiket pesawat musim panas ini," ucap Walsh.

Meskipun Amerika Serikat telah meningkatkan ekspor LPG sebesar 20 persen, tambahan tersebut dinilai belum cukup untuk menutup defisit pasar dunia. IEA memperkirakan volatilitas harga minyak mentah masih akan berlanjut karena persediaan global menyusut dalam laju yang sangat cepat.

"With global oil inventories drawing at record rates, price volatility is expected to continue ahead of the summer demand peak," terang IEA.

Artikel terkait

Rekomendasi