Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran mulai memberikan tekanan berlapis terhadap stabilitas ekonomi domestik Indonesia, seperti dilansir dari Money.
Situasi tersebut memicu pelemahan nilai tukar rupiah, memperlebar potensi pembengkakan subsidi energi, serta membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga membuat pasar keuangan global bergerak fluktuatif, terutama karena gangguan distribusi minyak mentah akibat penutupan Jalur Selat Hormuz.
Perkembangan kondisi di kawasan Timur Tengah diakui menjadi faktor utama yang mendikte pergerakan sentimen pasar saat ini.
"Ke depannya kami memandang sentimen di pasar akan tetap headline driven sampai ada kepastian kapan jalur pelayaran distribusi minyak dapat kembali normal," ujar Syuhada dalam publikasi Seeking Alpha Mei 2026.
Tekanan harga energi yang bertahan di level tinggi ini menyulitkan bank sentral Amerika Serikat dalam merumuskan kebijakan moneter terbarunya.
Meskipun opsi menaikkan suku bunga bukan menjadi rencana utama, bank sentral Amerika Serikat kini lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga acuan ke depan.
Perubahan ekspektasi pasar terlihat dari prediksi awal tahun yang memperkirakan penurunan Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin, namun kini beralih pada proyeksi suku bunga bertahan sepanjang tahun.
Di sektor domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 melaju 5,61 persen secara tahunan yang menjadi capaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir, meskipun rupiah terus tertekan.
Kondisi ini menuntut pemerintah menghadapi pilihan dilematis antara menjaga daya beli masyarakat atau mempertahankan stabilitas fiskal serta nilai tukar.
"Kebijakan yang pro-pertumbuhan, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi dan menaikkan subsidi energi, dipandang positif untuk menjaga daya beli masyarakat, walau akan meningkatkan beban APBN dan menekan rupiah," kata Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
Sebaliknya, penyesuaian harga energi dinilai mampu menjaga kredibilitas anggaran negara dan menopang rupiah, tetapi berisiko menekan tingkat konsumsi riil masyarakat.
Pemerintah diproyeksikan tetap mengambil opsi pro-pertumbuhan selama eskalasi konflik di Timur Tengah tidak berlangsung dalam jangka waktu yang terlalu lama.
Hingga Maret 2026, pelebaran defisit APBN telah menyentuh angka 0,93 persen terhadap produk domestik bruto, meningkat dari periode sama tahun lalu sebesar 0,43 persen.
Berdasarkan perhitungan MAMI, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp 6,8 triliun.
Jika harga minyak bertahan di rata-rata 90 dollar AS per barrel, defisit fiskal berisiko membengkak sekitar 0,5 persen terhadap PDB, meskipun langkah efisiensi anggaran diyakini mampu menjaga defisit tetap di bawah batas 3 persen.
Penurunan cadangan devisa dari 156,47 miliar dollar AS pada akhir Desember 2025 menjadi 146,20 miliar dollar AS per akhir April 2026 turut membatasi ruang pelonggaran moneter Bank Indonesia.
Menyikapi keterbatasan ini, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia mengalihkan fokus penempatan portofolio investasi mereka pada instrumen surat utang berdurasi pendek.
"Saat ini strategi portofolio memiliki preferensi pada obligasi tenor pendek, mempertimbangkan kurva imbal hasil yang relatif flat," ujar Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
Imbal hasil SBN tenor 5 tahun saat ini berada di angka 6,5 persen, sangat mendekati yield tenor 10 tahun yang berada pada level 6,6 persen.
Selisih tipis tersebut menjadikan obligasi tenor pendek jauh lebih kompetitif karena menawarkan keuntungan yang menarik namun dengan eksposur risiko durasi yang jauh lebih rendah.
Investor juga diimbau untuk tetap menjaga kedisiplinan dan konsistensi pada target investasi jangka panjang di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global saat ini.
"Diversifikasi portofolio menjadi strategi utama," kata Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).