Konflik Teluk Persia Picu Kenaikan Harga Minyak dan Ancaman Stagflasi Global

Konflik Teluk Persia Picu Kenaikan Harga Minyak dan Ancaman Stagflasi Global
Foto: Ilustrasi Konflik Teluk Persia Picu Kenaikan Harga Minyak dan Ancaman Stagflasi Global.

Konflik berkepanjangan di Teluk Persia kini mulai mengguncang fondasi perekonomian global secara signifikan. Ketegangan yang telah memasuki bulan ketiga di sekitar Selat Hormuz memicu hambatan navigasi yang mengganggu sekitar 20% aliran minyak global, seperti dikutip dari Suara.

Situasi tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga lebih dari 60% dan sempat menyentuh US$119,50 per barel. Sementara itu, minyak WTI melesat sampai 78% dari level sebelum konflik, dan saat ini masih bertahan di dekat US$100 per barel.

Kenaikan harga energi ini memicu efek domino yang membuat inflasi global kembali memanas. Dampak lanjutannya, harapan pasar terkait penurunan suku bunga bank sentral utama dunia kini mulai pudar.

Laporan dari broker CFD global Elev8 menilai bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase baru yang disebut "higher for longer". Era suku bunga tinggi ini diproyeksikan akan bertahan dalam waktu yang jauh lebih lama dari perkiraan semula.

Kondisi tersebut memicu volatilitas yang tinggi di pasar keuangan global. Gejolak ini memengaruhi pergerakan mata uang utama seperti dolar AS, euro, yen Jepang, hingga komoditas emas.

"Perang secara efektif menghentikan narasi penurunan suku bunga pada 2026," kata pakar pasar finansial Elev8, Kar Yong Ang.

Kar Yong Ang menjelaskan bahwa tingginya harga minyak bertindak layaknya pajak tambahan bagi konsumen global. Hal ini melemahkan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, sementara bank sentral tidak bisa segera memotong suku bunga karena inflasi energi yang tinggi.

Ancaman Stagflasi di Berbagai Negara

Di Amerika Serikat, harga bahan bakar bensin telah mendekati US$4,25 per galon. Proyeksi inflasi konsumen atau CPI untuk musim panas 2026 diperkirakan menembus angka 3,5%, berada di atas target Federal Reserve sebesar 2%.

Kondisi yang lebih mengkhawatirkan membayangi wilayah Eropa dan Inggris akibat ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi. Ancaman stagflasi, yang merupakan kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi lemah, kini semakin nyata di kawasan tersebut.

European Central Bank (ECB) telah merevisi proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,6% dari estimasi sebelumnya sebesar 1,9%. Di sisi lain, Bank of England (BOE) diperkirakan harus menghadapi lonjakan inflasi hingga mencapai 4%.

Pasar kini memprediksi bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuan mereka setidaknya sampai Maret 2027. Kebijakan hawkish yang membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan juga berpotensi diambil oleh ECB, BOE, hingga Bank of Japan (BOJ).

Dampak pada Pasar Mata Uang dan Emas

Dolar AS kembali menjadi pilihan utama investor karena statusnya sebagai aset aman (safe haven) serta ketahanan energi domestik AS yang kuat. Sebaliknya, mata uang euro dan pound sterling mengalami tekanan berat akibat pelemahan ekonomi regional.

Mata uang yen Jepang juga menghadapi dilema besar karena inflasi impor yang meningkat tajam. Hal ini dipicu oleh perpaduan antara lemahnya nilai tukar domestik dan mahalnya harga energi dunia.

Di tengah situasi penuh gejolak ini, komoditas emas justru kembali menunjukkan kekuatannya. Harga XAUUSD sempat melonjak ke level tertinggi multi-tahun mendekati US$5.430 per ons sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran US$4.600ÔÇô4.800.

Tingginya risiko geopolitik yang berkepanjangan berhasil menjaga permintaan terhadap aset safe haven ini tetap besar. Kondisi tersebut mampu mengompensasi sentimen negatif yang biasanya muncul dari rencana kenaikan suku bunga bank sentral.

Elev8 memberikan peringatan bahwa volatilitas ekstrem di pasar finansial masih akan terus berlangsung selama situasi di Timur Tengah belum mereda. Indikator seperti data persediaan minyak, kebijakan bank sentral, dan diplomasi AS-Iran akan menjadi penggerak pasar yang sangat sensitif.

Artikel terkait

Rekomendasi