Sebanyak 15 anak tewas dan 62 lainnya mengalami luka-luka di Libanon dalam kurun waktu tujuh hari terakhir akibat eskalasi konflik yang terus berlanjut. Korban jiwa dari kalangan anak-anak ini tetap berjatuhan meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah seharusnya sudah berlaku, seperti dilansir dari Media Indonesia pada Jumat (29/5/2026).
Badan PBB untuk urusan anak-anak, UNICEF, menyatakan kekecewaannya atas situasi krusial ini. Organisasi tersebut menegaskan bahwa hukum kemanusiaan internasional mewajibkan perlindungan menyeluruh bagi anak-anak dalam situasi perang tanpa adanya pengecualian.
"Menurut Kementerian Kesehatan Publik Libanon, sebanyak 77 anak dilaporkan tewas atau terluka dalam sepekan terakhir saja," ujar juru bicara UNICEF, Ricardo Pires, dalam pengarahan media di Jenewa, Jumat (29/5/2026).
Pihak UNICEF mencatat bahwa sebagian besar anak-anak tersebut menjadi korban dari bombardir yang menyasar wilayah selatan. Agresi udara yang terjadi satu hari sebelumnya bahkan merenggut nyawa tujuh anak serta melukai puluhan anak lainnya.
"Lima belas anak tewas dan 62 luka-luka dalam tujuh hari. Kami memahami bahwa sebagian besar dari anak-anak ini terkena dampak serangan udara di Libanon selatan. Kemarin saja, tujuh anak tewas dan 30 lain luka-luka," tambah Ricardo Pires.
Kesepakatan gencatan senjata yang didukung Iran dan Israel sedianya dimulai pada 17 April 2026, tetapi implementasi di lapangan kerap diabaikan oleh kedua pihak. Secara keseluruhan, UNICEF mendata ada 55 anak meninggal dunia dan 212 anak luka-luka semenjak masa tenang tersebut dinyatakan berlaku.
Keterlibatan Libanon dalam konflik regional ini meluas sejak awal Maret 2026 setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel. Pihak militer Israel belakangan juga gencar memberikan perintah evakuasi di kota Tyre yang diikuti oleh gempuran udara intensif.