Sembilan Komoditas Strategis Terancam Terganggu Krisis Selat Hormuz

Sembilan Komoditas Strategis Terancam Terganggu Krisis Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Sembilan Komoditas Strategis Terancam Terganggu Krisis Selat Hormuz.

Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas distribusi barang di Selat Hormuz. World Economic Forum (WEF) mengungkapkan dampak krisis ini tidak hanya menyasar minyak mentah, tetapi juga sembilan komoditas strategis lainnya.

Dikutip dari Money, gangguan pada jalur laut tersebut berisiko mengguncang pasokan Gas Alam Cair (LNG), bahan baku pupuk, logam industri, hingga komponen penting transisi energi. Jalur ini menjadi krusial karena melayani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

International Energy Agency (IEA) melaporkan ketegangan di kawasan telah memangkas sekitar 20 persen pasokan LNG global. Kondisi ini mengganggu keseimbangan pasar gas internasional yang sebelumnya diharapkan mulai stabil.

Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di dunia sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk menyalurkan energi ke Asia dan Eropa. Berbeda dengan minyak yang memiliki jalur pipa alternatif, ekspor LNG Qatar tidak memiliki pilihan jalur lain.

IEA mencatat produksi LNG global pada Maret 2026 mengalami penurunan 8 persen secara tahunan. Penurunan ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab belum mampu tertutup sepenuhnya oleh kenaikan produksi dari wilayah lain.

Selain energi, komoditas urea dan ammonia turut terancam karena Teluk Arab menyumbang 20 persen ekspor pupuk jalur laut dunia. Sebanyak 46 persen perdagangan urea global berasal dari wilayah tersebut, yang sangat dibutuhkan India, Brasil, dan China.

Dampak pada Industri Logam dan Teknologi

Sektor otomotif dan konstruksi juga dibayangi risiko kenaikan harga akibat gangguan pasokan aluminium primer. Uni Emirat Arab dan Bahrain memproduksi sekitar 9 persen aluminium global, yang kini distribusinya mulai terbatas.

Industri teknologi masa depan seperti baterai kendaraan listrik dan semikonduktor juga berada dalam posisi rentan. Sulfur, grafit, dan helium merupakan tiga komoditas kunci yang pasokannya melewati jalur perairan sempit ini.

Hampir setengah perdagangan sulfur melalui laut global melewati Selat Hormuz. Kelangkaan bahan ini dapat menghambat pemurnian nikel dan tembaga, sekaligus menaikkan biaya produksi pupuk fosfat untuk pertanian skala besar.

Berikut adalah daftar komoditas strategis selain minyak yang terdampak krisis di Selat Hormuz menurut laporan WEF:

Daftar Komoditas Terdampak Krisis Selat Hormuz
Jenis KomoditasPeran/Kegunaan UtamaWilayah Terdampak Utama
LNG (Gas Alam Cair)Pembangkit listrik dan industriAsia dan Eropa
Urea & AmmoniaPupuk pertanian dan kimiaIndia, Brasil, China
SulfurBaterai EV dan pupuk fosfatIndonesia dan Afrika
Methanol & MEGPlastik, tekstil, dan kemasanChina dan Vietnam
AluminiumKonstruksi dan otomotifPasar Global (LME)
GrafitBaterai kendaraan listrikIndustri energi bersih
HeliumSemikonduktor dan medis (MRI)Rantai pasok teknologi
Pelet Bijih BesiBahan baku industri bajaManufaktur global

Ancaman Terhadap Sektor Kesehatan dan Manufaktur

Komoditas helium yang sering terabaikan justru memegang peran vital dalam operasional mesin MRI di rumah sakit. Qatar memproduksi sepertiga pasokan helium global yang juga dibutuhkan untuk fabrikasi presisi pada industri semikonduktor.

WEF juga memasukkan pelet bijih besi dalam daftar risiko karena perannya sebagai bahan baku utama industri baja. Gangguan pada distribusi gumpalan konsentrat besi ini dapat meningkatkan tekanan biaya pada manufaktur dunia.

Krisis ini juga memicu lonjakan biaya pengiriman dan premi asuransi maritim. Penundaan proyek LNG baru diprediksi membuat pasar gas tetap ketat hingga 2027, dengan potensi kehilangan pasokan mencapai 120 miliar meter kubik pada periode 2026ÔÇô2030.

Artikel terkait

Rekomendasi