Komisi Eropa memperingatkan maskapai dan negara anggota untuk bersiap menghadapi berbagai skenario akibat ketidakpastian durasi krisis bahan bakar pesawat yang sedang berlangsung pada Selasa (5/5/2026). Langkah antisipasi ini diambil untuk merespons gangguan pasokan avtur yang memicu kekhawatiran pelaku industri di kawasan tersebut.
Juru Bicara Komisi Eropa Anna-Kaisa Itkonen menjelaskan bahwa otoritas eksekutif Uni Eropa terus melakukan koordinasi ketat dengan negara anggota dan pelaku industri. Upaya ini dilakukan di tengah ketidakpastian mengenai kapan situasi pasokan bahan bakar jet akan kembali normal.
"Tidak ada yang benar-benar tahu berapa lama situasi ini akan berlangsung. Karena itu, langkah paling efektif yang bisa dilakukan adalah bersiap untuk segala kemungkinan, dan itu yang sedang kami lakukan," ujarnya dikutip dari Kantor Berita Anadolu, Selasa (5/5/2026).
Itkonen menegaskan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan guna menentukan kebijakan lanjutan bagi blok tersebut. Penegasan ini disampaikan dalam pengarahan pers harian yang digelar di Brussels terkait manajemen krisis energi.
"Kami terus berkoordinasi, kami siap, dan kami memiliki pemahaman penuh atas apa yang terjadi. Selain itu, pekan ini kami juga akan menerbitkan panduan bagi maskapai terkait bahan bakar jet," katanya.
Panduan tersebut dijadwalkan terbit dalam waktu dekat guna memberikan kepastian regulasi bagi operator penerbangan. Dokumen ini akan memuat aspek teknis hingga aturan perlindungan hak-hak konsumen di tengah operasional yang terganggu.
"Baik aturan anti-tankering maupun kemungkinan impor bahan bakar jet tipe AS atau Amerika Utara akan dimasukkan dalam panduan yang kami rencanakan rilis pekan ini," ujarnya.
Dilansir dari Ekonomi, harga avtur di Eropa melonjak tajam sejak tahun lalu akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan pengiriman di Selat Hormuz. Kilang di Uni Eropa saat ini hanya mampu memenuhi 70 persen kebutuhan domestik, sementara sisanya bergantung pada impor dari negara-negara Teluk.
Direktur Eksekutif International Energy Agency Fatih Birol sebelumnya telah memberikan peringatan terkait potensi defisit bahan bakar ini. Sementara itu, data Financial Times menunjukkan maskapai global telah memangkas sekitar 2 juta kursi dari jadwal penerbangan Mei akibat menipisnya stok bahan bakar.
Analis penerbangan John Strickland menilai maskapai di Eropa saat ini cenderung menghindari risiko operasional yang tinggi. Hal ini berdampak pada pengaturan ulang rute penerbangan jarak jauh, terutama menuju kawasan Asia.
"Tidak ada maskapai Eropa yang akan mengirim pesawat ke Asia untuk menangkap permintaan dari kawasan Teluk, lalu justru terjebak di sana tanpa bahan bakar untuk kembali," ujarnya.
Strickland menyoroti bahwa kondisi saat ini merupakan fenomena yang tidak lazim dalam industri penerbangan global. Meskipun harga bahan bakar sering berubah, ancaman ketiadaan stok merupakan tantangan yang sangat serius bagi maskapai.
"Harga bahan bakar jet memang selalu berfluktuasi, tetapi sepanjang pengalaman saya, belum pernah ada kekhawatiran soal kelangkaan seperti ini," katanya.