KNKT Ungkap Taksi Online Tidak Mengalami Gangguan Sistem

KNKT Ungkap Taksi Online Tidak Mengalami Gangguan Sistem
Foto: Ilustrasi KNKT Ungkap Taksi Online Tidak Mengalami Gangguan Sistem.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan temuan terbaru bahwa taksi online Green SM tidak mengalami gangguan sistem sebelum tertabrak kereta Commuter Line (KRL) di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Selasa (28/4/2026).

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan penjelasan tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026), seperti dilansir dari Otomotif. Data on board unit (OBU) menunjukkan sistem kendaraan berfungsi normal tanpa rekaman error sebelum kecelakaan.

"Dari data on board unit (OBU) kendaraan B 2864 SBX, tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data 1 jam sebelum kejadian," ujar Soerjanto, Ketua KNKT.

Kendaraan tersebut diketahui telah memenuhi kualifikasi keselamatan tertentu, meskipun regulasi pengujian tersebut belum diwajibkan secara menyeluruh di dalam negeri.

"Kendaraan lulus pengujian electro magnetic compatibility (EMC) mengikuti standar India, sementara di Indonesia tidak wajib EMC," kata Soerjanto, Ketua KNKT.

Berdasarkan hasil investigasi, mobil itu juga telah dilengkapi peranti keamanan modern pada sistem pengereman parkirnya.

"Kendaraan juga sudah dilengkapi dengan fitur keselamatan Electric Parking Lock Module," kata Soerjanto, Ketua KNKT.

KNKT memaparkan kronologi pergerakan mobil yang mendadak meluncur lambat akibat posisi tuas transmisi yang tidak sesuai.

"Kendaraan pada posisi D dan berjalan normal dengan kecepatan rata-rata 15 km/jam. Kendaraan berpindah ke posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3-7 km/jam," ujar Soerjanto, Ketua KNKT.

Kondisi jalan yang menurun membuat mobil terus bergerak maju sementara pengemudi hanya melakukan pengereman ringan.

"Ini kami tidak tahu kenapa kok diposisi Netral-kan. Kemudian, pengemudi membiarkan kendaraan meluncur sambil mengerem ringan di jalan menurun," kata Soerjanto, Ketua KNKT.

Saat berada di atas rel kereta, pengemudi berupaya menambah kecepatan dengan menginjak pedal gas, namun mobil tetap tidak merespons.

"Pengemudi terus menekan gas hingga 51 persen, kendaraan tidak bergerak karena dalam posisi N, kecepatan menjadi 0 km/jam," ujarnya Soerjanto, Ketua KNKT.

Sopir sempat memindahkan tuas transmisi kembali, namun mobil terkunci di posisi parkir karena urutan pengoperasian pedal yang tidak tepat.

"Selanjutnya handle berposisi pada P, di mana selanjutnya pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menginjak on-off on-off, tapi selalu dalam posisi P sehingga mobil tidak bisa bergerak,ÔÇØ katanya Soerjanto, Ketua KNKT.

Investigasi KNKT turut mengungkap latar belakang pengemudi yang baru bekerja selama tiga hingga lima hari dan direkrut melalui bursa kerja.

"Proses pengenalan kendaraan melalui kelas teori secara singkat. Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knop transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman. Knop lampu indikator pada saat siang hari susah dilihat," ujar Soerjanto, Ketua KNKT.

Temuan ini sekaligus membantah spekulasi mengenai keberadaan medan magnet di perlintasan rel yang dituding menjadi penyebab mesin kendaraan mati mendadak.

Artikel terkait

Rekomendasi