Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memberikan penjelasan mengenai pengadaan motor listrik untuk mendukung operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kendaraan tersebut difungsikan bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025.
Unit yang digunakan merupakan jenama rebranding Emmo JVX GT dan JVH Max oleh PT Adlas Sarana Elektrik, yang aslinya adalah produk Tinbot atau Kollter ES1 Pro-M asal China. Dilansir dari Detik Oto, kendaraan tersebut diproduksi oleh Jiangsu Keyroad Transportation Technology Co Ltd.
"Motor ini di Eropa ada merek lain, sejenis tapi dengan merek yang berbeda. Kalau di Eropa namanya Tinbot. Di Eropa dan Kanada karena itu satu jenis," kata Dadan, Kepala BGN.
Dadan menyebutkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi secara internal terkait pemilihan unit kendaraan yang infrastrukturnya belum masif di dalam negeri. Hal ini mencakup alasan mengapa BGN tidak memilih pabrikan lokal yang sudah memiliki layanan purna jual luas.
"Ya, ini harus ditanyakan kepada pejabat pembuat komitmen. Secara detail," kata Dadan.
Penegasan mengenai proses klarifikasi terus dilakukan oleh pimpinan lembaga tersebut. Dadan menekankan bahwa ia sedang menunggu informasi lebih lanjut dari jajarannya mengenai alasan pemilihan merek tertentu.
"Itu bagian klarifikasi yang sedang saya minta," tambah Dadan.
Terkait aspek pembiayaan, harga motor listrik tersebut diklaim lebih rendah dibandingkan harga yang beredar di pasaran. Dadan memerinci bahwa harga unit trail berada di angka Rp42 juta hingga Rp43 juta.
"Kalau untuk sementara dari laporan yang ada kan, ada harga pasar ya. Ini berbasis laporan sih di bawah harga pasar. Harga pasar kalau tidak salah antara Rp 52 juta sampai 56 juta. Kemudian untuk pengadaan BGN untuk yang trail harganya kurang-lebih Rp 43 juta, antara Rp 42 sampai Rp 43 juta," jelas Dadan.
Selain model trail, BGN juga menyediakan tipe kendaraan listrik standar untuk menunjang distribusi gizi. Anggaran pengadaan disesuaikan dengan spesifikasi masing-masing unit motor.
"Dan kemudian untuk yang motor listrik biasa itu Rp 41 juta," kata Dadan.