Dunia akademik internasional baru-baru ini digemparkan oleh dugaan pemalsuan riset ilmiah dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark. Menanggapi kegaduhan tersebut, para pelaku yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti akhirnya memberikan klarifikasi resmi melalui unggahan di platform Threads atas nama Rifaldy dan Tim berupa permohonan maaf terbuka. Berikut adalah 7 poin utama klarifikasi mereka terkait skandal tersebut:
- Permohonan Maaf atas Kegaduhan Global ÔÇö Tim mengakui bahwa aktivitas mereka telah menimbulkan polemik besar di kalangan peneliti dunia dan meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pihak atas kegaduhan yang terjadi terkait aktivitas konferensi internasional tersebut.
- Motivasi Keuntungan Finansial dan Pribadi ÔÇö Mereka mengakui secara terbuka bahwa motivasi utama mengikuti konferensi bergengsi tersebut bukanlah murni untuk pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan demi memperoleh travel grant serta kesempatan bepergian ke luar negeri.
- Penggunaan AI Secara Berlebihan dan Falsifikasi ÔÇö Poin krusial dalam skandal ini adalah keterlibatan kecerdasan buatan (AI) secara tidak semestinya, termasuk melakukan falsifying AI dalam proses penyusunan, framing, hingga representasi penelitian yang tidak memenuhi standar transparansi akademik.
- Pencatutan Nama Institusi tanpa Izin ÔÇö Terkait afiliasi dalam makalah, tim mengklarifikasi dan meminta maaf karena telah mencantumkan beberapa nama lembaga secara sepihak tanpa adanya izin maupun keterlibatan resmi dari institusi terkait.
- Manipulasi Afiliasi Komunitas Riset ÔÇö Selain mencatut institusi formal, mereka juga mengakui telah menggunakan nama komunitas riset independen dengan cara yang menyesatkan untuk menimbulkan kesan seolah-olah komunitas tersebut adalah institusi formal resmi.
- Pencantuman Nama Penulis Fiktif ÔÇö Pelanggaran etika lainnya yang diakui adalah pencantuman nama beberapa individu yang sebenarnya tidak hadir atau tidak terlibat langsung, serta adanya praktik di mana satu orang mewakili presentasi untuk beberapa nama penulis sekaligus secara tidak sah.
- Komitmen untuk Tidak Mengulangi Perbuatan ÔÇö Menutup klarifikasinya, Prihantini, Rifaldy, dan Rini menyatakan penyesalan mendalam karena telah merusak kepercayaan publik, berkomitmen menjadikan peristiwa di Kopenhagen ini sebagai pelajaran hidup, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa.