Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan ikan nila atau tilapia sebagai komoditas andalan baru untuk memperkuat ekspor perikanan Indonesia ke pasar Amerika Serikat dan Eropa pada Jumat (15/5/2026). Komoditas ini diproyeksikan menjadi daya tarik utama bagi konsumen global karena kualitas nutrisinya yang tinggi.
Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Erwin Dwiyana, menjelaskan bahwa tilapia memiliki kandungan protein antara 20 hingga 29 gram per sajian. Dilansir dari Detik Finance, ikan ini juga mengandung Omega-3, 6, 9, serta berbagai mineral penting yang dibutuhkan tubuh.
Standar keamanan pangan menjadi faktor krusial yang membuat produk ini diterima tanpa kendala di pasar internasional. Para eksportir nasional telah melengkapi berbagai sertifikasi wajib maupun sertifikasi yang diminta oleh pembeli global untuk menjaga kepercayaan konsumen.
"Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang zero penolakan. Kami melihat standar global sangat penting diperhatikan. Mulai dari persyaratan wajib seperti GMP-SSOP, HACCP, Health Certificate, dan Nomor Registrasi, dan diperkuat sertifikasi buyer-driven seperti GLOBALG.A.P., ISO 22000, SQF, BAP, ASC dan BRC, semuanya dilengkapi oleh seluruh eksportir kita sehingga pasar percaya dengan produk kita," ucap Erwin, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP.
Kelengkapan dokumen dan sertifikasi tersebut menjadi instrumen utama dalam menembus barikade pasar ekspor yang ketat. Erwin menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis (14/5) sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong daya saing produk lokal.
Salah satu pelaku industri, Regal Springs Indonesia, telah membuktikan efektivitas standar tersebut dengan berhasil masuk ke jaringan pub Greene King di Inggris. Perusahaan ini mengandalkan puluhan sertifikasi internasional untuk menjamin kualitas produknya di Benua Biru.
"Dengan adanya ASC ini maka budidaya perikanan Indonesia dituntut untuk bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga proses menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan. Transformasi ini memastikan bahwa tilapia Indonesia tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan," terang Tri Dharma Saputra, Direktur Regal Springs Indonesia.
Di pasar Inggris, ikan nila Indonesia digunakan sebagai bahan baku hidangan populer seperti fish and chip dan menu tanpa tulang lainnya. Harga yang kompetitif membuat tilapia mulai menggeser posisi spesies ikan putih lainnya seperti kod dan trout.
Pemerintah juga sedang menjalankan program revitalisasi tambak di wilayah Pantura dan mengembangkan Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) di Karawang. Langkah ini diambil untuk memastikan kapasitas produksi nasional terus meningkat secara terukur dan stabil.
"Sistem budidaya yang terukur, berkelanjutan, dan mampu dikelola sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim atau eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan mampu menawarkan solusi konkret untuk mencapai ketahanan pangan nasional secara mandiri dan berdaulat," tegas Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan.