Kisah Pelukis Trotoar Jakarta: Bertahan di Antara Kanvas dan Klakson

Kisah Pelukis Trotoar Jakarta: Bertahan di Antara Kanvas dan Klakson
Foto: Ilustrasi Kisah Pelukis Trotoar Jakarta: Bertahan di Antara Kanvas dan Klakson.

Di tengah ramainya pusat perbelanjaan dan lalu lalang pengunjung yang tak pernah sepi di kawasan Blok M, terselip sudut-sudut yang menawarkan ketenangan melalui goresan kuas di atas kanvas. Deretan lukisan berjajar di sepanjang trotoar bersandar pada pagar besi. Wajah-wajah manusia, dari potret realistis hingga karikatur penuh ekspresi, seolah menatap setiap orang yang melintas. Di antara karya-karya itu pula seorang pria paruh baya duduk tenang, sesekali menunduk menatap ponselnya, menunggu pesanan datang.

Lantai semen dan aroma cat minyak menjadi saksi bisu perjalanan Toto (64), seorang pelukis yang menghabiskan hampir empat dekade hidupnya di kawasan Blok M. Sejak tahun 1987, ia telah menyaksikan perubahan wajah Jakarta dari balik kanvasnya. Pria asal Yogyakarta ini awalnya merantau dan memulai langkahnya di trotoar Melawai Raya sebelum akhirnya menetap di area yang kini dikenal sebagai pusat kuliner dan budaya populer.

"Awalnya memang di sini. Kalau dulu kan di kaki lima, lalu setelah kawasan Blok M jadi, semua masuk ke sini" ujar Toto, Pelukis Blok M.

Baginya, trotoar bukan sekadar tempat usaha, melainkan galeri terbuka yang menyatukan seni dengan realitas jalanan. Meski kini ia dikenal sebagai pelukis jalanan, kemampuan Toto bukan sekadar iseng belaka. Ia sempat mengecap pendidikan tinggi di bidang seni sebelum akhirnya memilih jalan hidup yang lebih bebas di trotoar. Pengalaman kerja di bidang desain pun sempat ia jalani sebelum akhirnya memutuskan untuk menyalurkan bakatnya secara mandiri.

"Sebenarnya sih pernah kuliah dulu. Tapi tidak sampai selesai, ya akhirnya turun ke sini. Ini memang dari awalnya begitu. Sebelum jadi pelukis jalanan, saya juga pernah kerja di bidang desain. Akhirnya karena punya talenta, ya disalurkan di sini" tutur Toto, Pelukis Blok M.

Di hadapan Toto, berbagai karya menggambarkan fleksibilitasnya sebagai pelukis. Dalam kesehariannya, ia menerima berbagai jenis pesanan, mulai dari sketsa wajah, karikatur lucu, hingga pemandangan alam yang megah. Menariknya, bagi seorang ahli seperti Toto, melukis dari sebuah lembaran foto justru jauh lebih mudah dibandingkan meminta objeknya duduk langsung di hadapannya.

"Justru lebih gampang dari foto. Kalau foto kan benda mati, dia diam saja. Kalau langsung, orangnya kadang-kadang sudah capek, jadi posisinya sering berubah-ubah" jelas Toto, Pelukis Blok M.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, bergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Toto menjelaskan bahwa untuk ukuran A4 ia mematok harga sekitar lima ratus ribu rupiah, sementara karya yang lebih besar bisa mencapai jutaan rupiah.

"Tidak tentu, tergantung ukuran. Kalau ukuran A4 ini kena Rp 500.000. Nah, kalau yang sebesar ini bisa kena Rp 1,5 juta sudah termasuk bingkai" kata Toto, Pelukis Blok M.

Meski berada di area yang ramai, Toto mengaku sudah terbiasa bekerja dalam kondisi apa pun. Suara kendaraan, langkah kaki, hingga percakapan pengunjung tak lagi mengganggu konsentrasinya. Ia tetap tenang, fokus pada detail raut wajah yang sedang ia kerjakan, seolah-olah dunia di luar kanvas itu sedang berhenti berputar.

"Tidak, sudah terbiasa. Mau ramai atau sepi, buat saya sama saja tidak pengaruh" kata Toto, Pelukis Blok M.

Sehari-hari, rutinitasnya dimulai sejak pagi, menyesuaikan dengan aktivitas kawasan tersebut. Ia mengatakan setelah pasar kue subuh bubar, ia baru bisa menggelar lapaknya hingga sore hari sebelum kawasan tersebut berubah menjadi pusat kuliner malam. Dari lapak sederhana ini, Toto telah membuktikan bahwa seni jalanan mampu menopang kehidupan keluarga secara layak.

"Kalau pagi di sini masih ada pasar kue subuh, jadi jam 09.00 WIB baru buka sampai jam 4 sore. Nanti lewat jam 16.00 WIB gantian lagi untuk tempat makanan" kata Toto, Pelukis Blok M.

Pelanggannya pun beragam, dari karyawan kantoran yang memesan kado perpisahan hingga kolektor yang menyukai gaya karikaturnya. Ia melayani berbagai motif pesanan yang datang silih berganti setiap harinya.

"Biasanya pesan karikatur untuk hadiah acara perpisahan, ulang tahun, atau naik jabatan" katanya Toto, Pelukis Blok M.

Namun, meski demikian, dari hasil melukis, Toto mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi. Hasil keringatnya di trotoar terbukti mampu mengantarkan keluarganya ke masa depan yang lebih baik.

"Aman, masih berkecukupan lah, walaupun tidak seramai dulu. Dulu pun saya menyekolahkan anak dari sini sampai lulus UIN" kata Toto, Pelukis Blok M.

Bertahan di Pintu Besar Selatan

Sementara itu, sekitar 14 kilometer dari tempat Toto menuangkan imajinasi, di kawasan Jalan Pintu Besar Selatan, Tendy (45) tampak fokus menggerakkan pensil konte di tangannya, membentuk garis demi garis wajah di atas kanvas. Di tengah hiruk pikuk suara kendaraan yang melintas perlahan, disertai klakson yang saling bersahutan, ia tetap tenggelam dalam pekerjaannya tanpa kehilangan konsentrasi. Sesekali, tangannya berhenti. Tatapannya mengarah tajam pada foto referensi yang ditempel di sudut kanvas, seolah memastikan setiap detail tertangkap dengan tepat.

Bersandar di dinding bangunan tua peninggalan era kolonial, Tendy terlihat menikmati setiap proses melukis yang dijalaninya. Ia mengisahkan perjalanannya sebagai pelukis jalanan yang telah dimulai sejak awal 1990-an. Baginya, trotoar bukan sekadar ruang publik, melainkan ruang yang mempertemukan karya dengan banyak orang yang lalu lalang setiap hari.

ÔÇ£Buat kami, seniman sejati itu dalam berkarya tidak melihat tempat, yang penting tetap bisa melukis" kata Tendy, Pelukis Jalan Pintu Besar Selatan.

Dalam kesehariannya, ia biasanya mulai bekerja sejak pagi hingga sore hari. Soal pesanan, Tendy mengakui tidak ada kepastian. Namun, dalam kondisi normal, ia masih menerima sejumlah order yang cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari.

ÔÇ£Soal pesanan, tidak menentu. Dalam sepekan biasanya bisa dapat tujuh sampai delapan orderan. Kalau dihitung, sebulan kira-kira bisa sekitar Rp 7 juta. Tapi itu tidak pasti" ujar Tendy, Pelukis Jalan Pintu Besar Selatan.

Ketika pesanan sedang sepi, ia tetap produktif dengan melanjutkan atau menyempurnakan karya yang belum selesai, agar waktu tidak terbuang percuma. Interaksi dengan orang-orang yang melintas pun menjadi bagian dari kesehariannya.

ÔÇ£Kalau lagi sepi, biasanya tetap gambar atau menyelesaikan sketsa yang belum jadi" ungkap Tendy, Pelukis Jalan Pintu Besar Selatan.

Respons yang datang beragam, mulai dari sekadar melihat hingga akhirnya tertarik menggunakan jasanya. Ia menjelaskan, sebagian besar pelukis di lokasi tersebut melayani pembuatan potret wajah hingga karikatur, dengan ukuran yang disesuaikan permintaan pelanggan. Untuk harga lukisan, Tendy bilang bergantung pada tingkat kerumitan serta ukuran karya.

"Dalam sepekan, biasanya dapat tujuh sampai delapan orderan. Jadi, kalau ditotal, penghasilan sebulan bisa sekitar Rp 7 juta" ucap Tendy, Pelukis Jalan Pintu Besar Selatan.

Nilai Estetika dan Industri Kreatif

Bagi Arman (44), kehadiran pelukis jalanan di tengah hiruk-pikuk kota menghadirkan kesan yang kontras namun menarik. Di satu sisi, ia melihatnya sebagai elemen yang memperkaya wajah ruang publik, namun di sisi lain juga menyadari tantangan besar yang harus dihadapi para seniman tersebut untuk bertahan di lingkungan yang tidak selalu ramah. Pengalamannya menggunakan jasa pelukis jalanan pun terjadi secara spontan.

ÔÇ£Waktu itu lagi jalan sama keluarga, terus lihat ada yang melukis detailnya bagus, jadi tertarik saja" kata Arman, Pengguna Jasa Pelukis.

Menurutnya, kualitas karya yang dihasilkan pelukis jalanan cukup beragam, namun tidak sedikit yang menunjukkan kemampuan teknis yang tinggi dan layak diapresiasi. Ia merasa harga yang ditawarkan seringkali jauh di bawah nilai seni yang diberikan.

ÔÇ£Ada yang hasilnya benar-benar bagus, detail, dan layak kalau dibandingkan dengan harga yang ditawarkan, bahkan mungkin lebih murah dari nilai seninya" kata Arman, Pengguna Jasa Pelukis.

Lebih jauh, Arman melihat keberadaan pelukis jalanan sebagai bagian dari kota yang memberikan nilai estetika tersendiri, sekaligus membuka ruang interaksi antara seniman dan masyarakat. Keberadaan mereka menghidupkan suasana trotoar menjadi lebih berwarna.

ÔÇ£Menurut saya keberadaan mereka justru menambah estetika kota. Trotoar tidak hanya sekadar jalur pejalan kaki, tapi ada kehidupan. Orang bisa melihat, berinteraksi" ujar Arman, Pengguna Jasa Pelukis.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, melihat keberadaan pelukis jalanan sebagai penanda bahwa kota masih menyisakan ruang. Ia menilai aktivitas melukis di ruang publik bukan semata-mata didorong kebutuhan ekonomi, melainkan juga bentuk ekspresi dan keterampilan yang terus diasah. Rissalwan menekankan bahwa profesi ini lebih tepat disebut industri kreatif daripada sektor informal biasa.

ÔÇ£Dia adalah sektor khusus yang memang kategorinya menurut saya malah industri kreatif. Ini yang harus kita angkat, jadi jangan sampai para pelukis ini disamakan dengan sektor informal. Yang, mohon maaf, tanpa keahlian apapun, dia bisa mengambil barang, berjualan, menawarkan ke orang. Tidak bisa. Ini berbeda menurut saya" ujar Rissalwan Habdy Lubis, Pengamat Sosial UI.

Meski demikian, ia melihat posisi pelukis jalanan masih cukup rentan, baik dari sisi pendapatan maupun apresiasi terhadap karya mereka. Kurangnya dukungan membuat para pelukis harus bertahan secara mandiri di tengah keterbatasan ruang dan nilai jual karya.

ÔÇ£Sejauh tidak difasilitasi, mereka akan struggle. Karena bisa jadi itulah cara mereka, itu yang mereka miliki, yang mereka bisa jual dalam tanda kutip" kata Rissalwan Habdy Lubis, Pengamat Sosial UI.

Artikel terkait

Rekomendasi