Kisah Bilal dan Ibnu Abbas Sembelih Ayam Saat Idul Adha

Kisah Bilal dan Ibnu Abbas Sembelih Ayam Saat Idul Adha
Foto: Ilustrasi Kisah Bilal dan Ibnu Abbas Sembelih Ayam Saat Idul Adha.

Hari Raya Idul Adha sering kali dipandang sebagai simbol kemampuan finansial seseorang melalui ukuran hewan yang dikurbankan. Namun, terdapat sisi lain dari tradisi ini yang terekam dalam sejarah para sahabat Rasulullah SAW.

Dikutip dari media Cahaya, Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Abbas pernah memilih untuk menyembelih ayam pada momentum Idul Adha. Daging tersebut kemudian dibagikan kepada fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial.

Cerita ini kerap diangkat dalam ceramah ulama seperti Gus Baha dan Ustadz Adi Hidayat. Meski keduanya menyembelih ayam, hal ini memicu diskusi mengenai keabsahan ayam sebagai hewan kurban dalam syariat Islam.

Ibadah kurban pada dasarnya berakar dari ketundukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah SWT. Inti dari ibadah ini bukanlah pada kemewahan fisik hewan, melainkan pada keikhlasan pelakunya.

Dalam Al Quran Surah Al-Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman:

ÔÇ£Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.ÔÇØ

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa kurban merupakan latihan spiritual. Tujuannya adalah untuk mengikis ego pribadi dan meningkatkan solidaritas antarsesama manusia di tengah perayaan hari besar.

Pesan Berbagi dari Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah dikenal sebagai sosok muazin yang hidup sederhana dan sangat zuhud. Dalam sebuah riwayat, Bilal pernah menyembelih ayam untuk diberikan kepada anak-anak yatim dan kaum papa saat Idul Adha.

Bilal disebut pernah berkata:

ÔÇ£Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang sajikan. Aku bisa menyembelih ayam lalu bersedekah dengannya kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin.ÔÇØ

Pernyataan ini bukan bertujuan mengubah hukum kurban, melainkan memberikan pesan mendalam. Berbagi kebahagiaan saat hari raya tidak harus menunggu kaya raya atau memiliki kemampuan membeli hewan besar.

Kedermawanan Abdullah bin Abbas

Langkah serupa juga dilakukan oleh Abdullah bin Abbas, sepupu Rasulullah SAW yang ahli dalam tafsir Al Quran. Beliau dikenal sangat mencintai ilmu dan memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap masyarakat sekitar.

Dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala, Ibnu Abbas diceritakan terbiasa membeli daging untuk dibagikan saat hari raya. Tindakan menyembelih ayam merupakan upaya agar momentum Idul Adha tetap dirasakan oleh kalangan kurang mampu.

Ketentuan Sah Hewan Kurban Menurut Syariat

Meskipun kisah para sahabat ini sangat inspiratif, para ulama menegaskan bahwa ayam tetap tidak sah dijadikan hewan kurban. Syariat Islam telah mengatur jenis hewan tertentu yang diperbolehkan untuk ibadah kurban.

Hewan yang sah hanya mencakup hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta. Ketentuan ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW serta kesepakatan seluruh ulama fikih dunia.

Kisah Bilal dan Ibnu Abbas lebih tepat dimaknai sebagai semangat sedekah dan memuliakan hari raya. Keduanya ingin menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi jangan sampai menghalangi seseorang untuk berbuat baik.

Esensi Idul Adha di Tengah Fenomena Modern

Di masa sekarang, Idul Adha terkadang menjadi ajang pamer hewan kurban dengan ukuran raksasa di media sosial. Fenomena ini menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk kembali pada niat yang tulus.

Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim bersabda:

ÔÇ£Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.ÔÇØ

Solidaritas sosial adalah pilar utama dalam perayaan ini. Menghadirkan hidangan terbaik bagi keluarga atau memberi bantuan kecil kepada tetangga yang membutuhkan sudah termasuk dalam upaya memuliakan hari raya.

Prinsip fikih menyebutkan bahwa sesuatu yang tidak bisa dilakukan secara sempurna, jangan ditinggalkan sepenuhnya. Orang yang belum mampu berkurban sapi tetap bisa mengambil berkah dengan bersedekah sesuai kemampuan mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi