Ulama besar Abdullah bin Al-Mubarak mendapatkan predikat haji mabrur tanpa menginjakkan kaki di Makkah pada abad ke-2 Hijriah setelah ia membatalkan perjalanannya demi membantu seorang wanita yang hampir memakan bangkai akibat kemiskinan ekstrem di Kufah.
Kisah yang dilansir dari Detikcom ini bermula ketika Abdullah bin Al-Mubarak menyiapkan 500 dinar dan seekor unta untuk menunaikan ibadah haji rutin. Namun, rencana tersebut berubah total saat ia menyaksikan realitas sosial yang memprihatinkan di pasar Kufah.
Saat sedang mencari perbekalan, ia melihat seorang wanita sedang membersihkan bulu itik yang diyakininya sudah menjadi bangkai. Penasaran dengan tindakan tersebut, ia kemudian mendekati wanita itu untuk mendapatkan penjelasan langsung.
"Mengapa engkau melakukan hal ini?" tanya Abdullah bin Al-Mubarak kepada wanita tersebut.
Pertanyaan awal tersebut sempat tidak mendapatkan jawaban karena sang wanita merasa hal itu bukan urusan sang ulama. Setelah Abdullah bin Al-Mubarak memberikan desakan lebih lanjut, barulah rahasia pahit keluarga tersebut terungkap.
"Wahai hamba Allah, janganlah engkau bertanya kepadaku tentang perkara yang tidak bermanfaat bagimu." jawab wanita itu.
Setelah didesak kembali oleh Abdullah bin Al-Mubarak, wanita keturunan Alawiyah tersebut akhirnya menceritakan bahwa ia memiliki empat orang putri dan telah empat hari tidak memakan apapun sejak suaminya wafat. Kondisi darurat tersebut membuat ia merasa halal untuk mengonsumsi bangkai demi menyambung hidup anak-anaknya.
"Wahai hamba Allah, aku terpaksa mengatakan rahasiaku kepadamu. Semoga Allah merahmatimu. Aku adalah seorang wanita Alawiyah. Aku mempunyai empat orang putri, sedangkan ayah dari anak-anakku ini telah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Hari ini adalah hari keempat kami tidak memakan apa pun. Dalam keadaan seperti ini, halal bagi kami untuk memakan bangkai. Aku mengambil bangkai itik ini, kemudian seperti yang engkau lihat, aku sedang membersihkannya untuk kuberikan kepada anak-anakku." ungkap wanita tersebut.
Mendengar pengakuan yang menyayat hati itu, Abdullah bin Al-Mubarak segera menyadari bahwa kebutuhan wanita tersebut lebih mendesak daripada keinginannya untuk berangkat haji yang ke sekian kalinya. Ia langsung menyerahkan seluruh uang dinar yang dibawanya.
"Celakalah engkau, wahai Ibnu Mubarak, betapa senang keadaanmu dibandingkan dengan orang ini!" kata Abdullah bin Al-Mubarak membatin.
Ia pun segera memerintahkan wanita tersebut untuk menyiapkan tempat bagi bantuan yang akan ia berikan. Seluruh biaya haji yang telah dikumpulkan berpindah tangan untuk menyelamatkan keluarga yang kelaparan tersebut.
"Bukalah kantongmu!" perintah Abdullah bin Al-Mubarak.
Sambil memberikan seluruh uangnya, Abdullah bin Al-Mubarak membatalkan keberangkatannya ke Makkah dan memilih untuk segera kembali ke negerinya di Khurasan. Ia merelakan kesempatan ibadah haji tahun itu demi kemanusiaan.
"Kembalilah ke rumahmu dengan uang ini untuk memperbaiki kondisi keluargamu." kata Abdullah.
Setelah musim haji berakhir, Abdullah bin Al-Mubarak disambut oleh para jemaah haji yang pulang dengan pernyataan yang mengejutkan. Mereka mengaku bertemu dengan Abdullah di lokasi-lokasi pelaksanaan haji, meski sang ulama secara fisik tidak berada di sana.
"Semoga Allah SWT menerima hajimu dan membalas segala usahamu." ucap Abdullah bin Al-Mubarak kepada para tetangganya.
Para jemaah haji justru memberikan jawaban serupa yang mengonfirmasi kehadiran spiritual sang ulama di tanah suci. Hal ini kemudian terjawab melalui sebuah mimpi yang dialami oleh Abdullah bin Al-Mubarak.
"Semoga Allah SWT menerima hajimu juga dan membalas segala usahamu. Bukankah kami bertemu denganmu di tempat ini dan itu pada waktu haji itu?" tanya para tetangganya.
Dalam mimpi tersebut, Nabi Muhammad SAW memberikan penjelasan bahwa Allah SWT telah menciptakan seorang malaikat yang menyerupai Abdullah untuk menghajikan dirinya sebagai balasan atas pertolongannya kepada keturunan Nabi yang sedang menderita.
"Wahai hamba Allah, janganlah engkau heran. Sesungguhnya engkau telah menolong seseorang yang sengsara dari anakku, maka aku meminta kepada Allah agar Dia ciptakan malaikat yang serupa bentuknya denganmu untuk menghajikan." ucap Nabi Muhammad SAW dalam mimpi Abdullah bin Al-Mubarak.