Laba Bersih Hero Global Investment Melonjak 55 Persen pada Kuartal I 2026

Laba Bersih Hero Global Investment Melonjak 55 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Hero Global Investment Melonjak 55 Persen pada Kuartal I 2026.

Emiten energi terbarukan PT Hero Global Investment Tbk (HGII) membukukan laba bersih senilai Rp 5,83 miliar pada kuartal I 2026, Sabtu (2/5/2026). Capaian tersebut menandai pertumbuhan sebesar 55,5 persen secara kuartalan (QoQ) yang didorong oleh perbaikan operasional dan efektivitas strategi perusahaan.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan yang mencapai Rp 17,96 miliar, naik 6,3 persen dibandingkan kuartal IV 2025. Dilansir dari Money, margin laba bersih perseroan turut mengalami lonjakan signifikan dari posisi 22,2 persen menjadi 32,5 persen pada periode yang sama.

Data keuangan mencatat laba kotor HGII berada pada angka Rp 14,01 miliar atau tumbuh 5,8 persen (QoQ) dengan margin kotor yang stabil di level 78,0 persen. Selain itu, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp 7,02 miliar, menunjukkan peningkatan sebesar 44,5 persen secara kuartalan.

Direktur Utama HGII Robin Sunyoto menjelaskan bahwa tren positif ini merupakan sinyal pemulihan kinerja yang berkelanjutan bagi perseroan ke depannya.

"Peningkatan kinerja secara kuartalan ini mencerminkan perbaikan operasional dan efektivitas strategi yang telah dijalankan Perseroan. Kami melihat tren positif ini sebagai indikasi pemulihan kinerja yang berkelanjutan," ujar Robin Sunyoto, Direktur Utama HGII.

Meskipun menunjukkan tren positif secara kuartalan, kinerja tahunan perusahaan mengalami penurunan jika dibandingkan periode kuartal I 2025. Pendapatan tercatat turun dari Rp 20,81 miliar menjadi Rp 17,96 miliar, sementara laba bersih terkoreksi dari Rp 6,88 miliar ke angka Rp 5,83 miliar.

Penurunan produksi listrik pada Maret 2026 menjadi faktor utama penyebab koreksi kinerja tahunan tersebut, namun manajemen optimis terhadap normalisasi operasional pada kuartal berikutnya. Robin juga menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur jaringan listrik hijau nasional untuk mendukung distribusi energi bersih.

"Kami menyambut baik rencana pengembangan jaringan listrik hijau yang menghubungkan Sumatra dan Jawa, karena infrastruktur ini akan menjadi kunci dalam menjembatani potensi pasokan energi terbarukan dengan pusat permintaan listrik nasional. Dengan adanya interkoneksi tersebut, supply dan demand dapat bertemu secara lebih efisien, sehingga membuka peluang peningkatan utilisasi pembangkit," tutur Robin Sunyoto, Direktur Utama HGII.

Saat ini, HGII mengoperasikan bisnisnya sebagai Independent Power Producer (IPP) melalui kemitraan jangka panjang dengan PT PLN (Persero). Perseroan memanfaatkan skema Power Purchase Agreement (PPA) untuk menyuplai energi bersih di tengah rencana pemerintah membangun supergrid Sumatera-Jawa yang ditargetkan beroperasi pada 2031.

Artikel terkait

Rekomendasi