Purbaya Sebut Kinerja APBN April 2026 Pulih dan Surplus

Purbaya Sebut Kinerja APBN April 2026 Pulih dan Surplus
Foto: Ilustrasi Purbaya Sebut Kinerja APBN April 2026 Pulih dan Surplus.

Kinerja Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN per April 2026 mencatatkan pemulihan signifikan dengan perbaikan keseimbangan primer yang surplus kembali sebesar Rp 28 triliun demi menjaga stabilitas fiskal domestik.

Kondisi keuangan negara yang menyehatkan tersebut dipicu oleh peningkatan penerimaan negara, dilansir dari Nasional pada Selasa (19/5/2026). Realisasi pendapatan negara hingga akhir April mampu tumbuh sebesar 13,3 persen secara tahunan.

Secara rinci, pertumbuhan penerimaan pajak melonjak hingga 16 persen, sementara sektor bea dan cukai berbalik positif 0,6 persen setelah sempat terkontraksi di bulan Maret. Penerimaan negara bukan pajak atau PNBP juga melesat 11,6 persen menjadi Rp 171,3 triliun.

Purbaya menyanggah analisis yang memperkirakan defisit APBN berisiko melebar mendekati 3,6 persen produk domestik bruto jika tren Maret dihitung tahunan karena kalkulasi tersebut mengabaikan dinamika fiskal.

"Sekarang kalau pakai pendekatan yang sama, 0,6% kali tiga (berarti sekitar) 1,8%. Tapi hitungannya enggak begitu," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers di Jakarta.

Menurut Purbaya, perbaikan pada pengelolaan APBN saat ini menjadi bukti konkret bahwa kondisi tata kelola keuangan negara bergerak menuju arah yang jauh lebih sehat.

"Anda lihat di situ keseimbangan primernya sudah surplus lagi Rp 28 triliun dan ke depan mungkin akan terus membaik," katanya.

Pada komponen pengeluaran, akselerasi belanja negara tetap dipacu agar tidak mengendur. Total realisasi belanja pemerintah hingga April 2026 menyentuh angka Rp 1.082,8 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 34,3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Penyaluran belanja kementerian dan lembaga melompat 57,9 persen, sedangkan sektor non-kementerian dan lembaga terkerek naik 45,2 persen. Distribusi anggaran ini sengaja dijaga merata sepanjang tahun demi mengawal momentum pertumbuhan ekonomi.

"Pada saat yang bersamaan belanja pemerintah juga kita enggak kendorin," imbuh Purbaya.

Lonjakan performa penerimaan di tengah ancaman perlambatan ekonomi global dinilai merefleksikan kuatnya aktivitas ekonomi dalam negeri.

"Banyak orang bilang di bulan April kondisi melambat, ternyata enggak nih. Ini menunjukkan semuanya ada tetap kinerja ekonomi yang kuat," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi