Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat yang baru Kevin Warsh diprediksi terpaksa mendesak kenaikan suku bunga ke level lebih tinggi demi membangun kredibilitas di mata pasar pada Senin (18/5/2026). Langkah agresif ini diperkirakan diambil guna meredam lonjakan inflasi global akibat Perang Iran.
Prediksi mengenai arah kebijakan moneter tersebut disampaikan oleh Kepala Yardeni Research Ed Yardeni sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Investor obligasi atau Bond Vigilantes berisiko melakukan aksi jual massal jika bank sentral gagal mengantisipasi tekanan inflasi.
"Warsh dijadwalkan memimpin rapat komite kebijakan moneter (FOMC) pada Juni mendatang. Namun, siapa sebenarnya yang memegang kendali kebijakan saat ini? Kami menilai kendali itu ada di tangan para Bond Vigilantes," tulis Yardeni, Kepala Yardeni Research.
Situasi internal komite saat ini menempatkan pandangan longgar Warsh sebagai posisi minoritas. Di sisi lain, gejolak pasar obligasi terhadap sikap longgar tersebut membuat ruang gerak pemimpin baru bank sentral ini semakin terbatas.
"The Fed harus mengejar ketertarikan pasar obligasi agar tidak kehilangan kendali atas biaya pinjaman riil dan untuk meredam amarah para Bond Vigilantes. Langkah kejutan berupa kenaikan suku bunga acuan secara mendadak justru berpotensi menyenangkan pasar," jelas Yardeni, Kepala Yardeni Research.
Kebijakan pengetatan moneter yang diambil lebih awal dinilai memberikan peluang bagi Warsh untuk mengendalikan biaya pinjaman riil di masyarakat. Skenario ini sekaligus dapat mendukung target ekonomi yang diharapkan oleh pihak Gedung Putih.
"Jika inflasi terkendali, suku bunga KPR bisa turun, pembiayaan korporasi akan lebih longgar, dan Presiden Trump dapat mengeklaim penurunan yield jangka panjang sebagai kemenangan ekonominya," pungkas Yardeni, Kepala Yardeni Research.
Kondisi pasar keuangan saat ini mencatat yield obligasi pemerintah Amerika Serikat berdurasi 30 tahun telah melewati angka 5 persen pada Jumat (15/6/2026). Sementara itu, data perangkat FedWatch dari CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga acuan pada akhir tahun telah merangkak naik mencapai 42 persen.