Masjid Nabawi berdiri sebagai tempat suci yang dibangun langsung oleh Rasulullah SAW di jantung kota Madinah. Bagi umat Islam, melaksanakan ibadah salat di dalamnya memiliki nilai spiritual tinggi yang melampaui rutinitas ibadah harian.
Keutamaan beribadah di tempat ini telah dijanjikan melalui sabda Rasulullah SAW dalam berbagai hadits. Dilansir dari Detikcom, terdapat perbedaan nilai pahala yang sangat signifikan antara salat di Masjid Nabawi dibandingkan dengan masjid lainnya.
Berdasarkan kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, beberapa riwayat menjelaskan kemuliaan tempat ini. Jabir RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"ÏÁ┘Ä┘ä┘ÄϺϮ┘î ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘Æ┘à┘ÄÏ│┘ÆÏ¼┘ÉÏ»┘É Ïº┘ä┘ÆÏ¡┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘à┘É ┘à┘ÉϺϪ┘ÄÏ®┘Å Ïú┘Ä┘ä┘Æ┘ü┘É ÏÁ┘Ä┘ä┘ÄϺϮ┘ÉÏî ┘ê┘ÄÏÁ┘Ä┘ä┘ÄϺϮ┘î ┘ü┘É┘è ┘à┘ÄÏ│┘ÆÏ¼┘ÉÏ»┘É┘è Ïú┘Ä┘ä┘Æ┘ü┘Å ÏÁ┘Ä┘ä┘ÄϺϮ┘ÉÏî ┘ê┘Ä┘ü┘É┘è Ï¿┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘É Ïº┘ä┘Æ┘à┘Ä┘é┘ÆÏ»┘ÉÏ│┘Ä Ï«┘Ä┘à┘ÆÏ│┘Å┘à┘ÉϺϪ┘ÄÏ®┘É ÏÁ┘Ä┘ä┘ÄϺϮ┘É"
Artinya: "Melaksanakan salat di Masjidil Haram (pahalanya) sebanding dengan seratus ribu kali salat (di masjid yang lain), salat di masjidku (Masjid Nabawi) pahalanya sebanding dengan seribu kali salat (di masjid yang lain), sedang salat di Baitul Maqdis pahalanya sebanding dengan lima ratus kali salat (di masjid yang lain)." (HR Thabrani dan Baihaqi)
Pernyataan serupa juga ditemukan dalam riwayat Ahmad, di mana Rasulullah SAW menekankan bahwa salat di masjidnya seribu kali lipat lebih utama dibandingkan masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Hal ini diperkuat dengan anjuran untuk mengunjungi masjid ini secara khusus.
"┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÅÏ┤┘ÄÏ»┘æ┘ŠϺ┘äÏ▒┘æ┘Éϼ┘ÄϺ┘ä┘Å ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë Ͻ┘Ä┘ä┘ÄϺϽ┘ÄÏ®┘É ┘à┘ÄÏ│┘ÄϺϼ┘ÉÏ»┘Ä Ïº┘ä┘Æ┘à┘ÄÏ│┘ÆÏ¼┘ÉÏ»┘É Ïº┘ä┘ÆÏ¡┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘à┘É ┘ê┘Ä┘à┘ÄÏ│┘ÆÏ¼┘ÉÏ»┘É┘è ┘ç┘ÄÏ░┘ÄϺ ┘ê┘ÄϺ┘ä┘Æ┘à┘ÄÏ│┘ÆÏ¼┘ÉÏ»┘É Ïº┘ä┘ÆÏú┘Ä┘é┘ÆÏÁ┘Ä┘ë"
Artinya: "Kendaraan pembawa barang (dan orangnya) tidak perlu diistirahatkan kecuali untuk masuk ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha." (HR Bukhari)
Sejarah Pembangunan Masjid Nabawi
Proses berdirinya bangunan suci ini berkaitan erat dengan kedatangan Rasulullah SAW di Madinah. Berdasarkan Buku Tuntunan Manasik Haji dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Rasulullah SAW memilih lokasi pembangunan secara bijaksana melalui petunjuk Allah SWT.
Saat unta beliau berhenti di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari, Rasulullah SAW memutuskan untuk tinggal di sana sementara waktu. Beberapa bulan kemudian, pembangunan masjid dimulai di atas lahan yang sebagian merupakan wakaf dari As'ad bin Zurarah.
Sebagian lahan lainnya dibeli dari anak yatim bernama Sahal dan Suhali. Mereka adalah putra Amir bin Amarah yang berada di bawah asuhan Mu'az bin Atrah. Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW.
Batu-batu selanjutnya diletakkan secara berurutan oleh para sahabat utama, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Pembangunan kemudian dilanjutkan secara gotong royong oleh masyarakat Muslim saat itu dengan struktur yang sangat sederhana.
Pagar awal masjid terbuat dari batu tanah setinggi sekitar 2 meter dengan tiang dari batang kurma. Atapnya menggunakan pelepah daun kurma, sementara halatannya hanya ditutup batu-batu kecil tanpa hiasan apapun.
Pada masa awal pembangunan tahun pertama Hijriah, kiblat masjid masih menghadap ke Baitul Maqdis. Luas awal bangunan memiliki panjang sekitar 70 hasta dan lebar 60 hasta dengan tiga buah pintu akses utama.
Di sekitar area masjid, dibangun kediaman untuk keluarga Rasulullah SAW. Di sisi timur berdiri rumah Siti Aisyah, yang di kemudian hari menjadi lokasi pemakaman Rasulullah SAW beserta dua sahabat terdekatnya.