Airlangga Sebut RI Hanya Bergantung 20 Persen pada Selat Hormuz

Airlangga Sebut RI Hanya Bergantung 20 Persen pada Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Airlangga Sebut RI Hanya Bergantung 20 Persen pada Selat Hormuz.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap distribusi minyak melalui Selat Hormuz hanya mencapai 20 persen. Hal tersebut disampaikan dalam acara Kick Off PINISI di Gedung Bank Indonesia pada Rabu, 29 April 2026, sebagaimana dilansir dari Suara.

Pemerintah saat ini lebih menitikberatkan pada penguatan ketahanan pangan di tengah potensi krisis energi akibat ketegangan global. Airlangga menjelaskan bahwa sektor kelistrikan nasional masih didominasi oleh penggunaan batu bara dan gas, yang menjadi fondasi stabilitas pasokan energi domestik.

"70 persen negara Asia ini sangat bergantung kepada Middle East, kepada Selat Hormuz. Namun Indonesia tidak. Jadi itu yang Indonesia bergantung sekitar 20 persen," katanya Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.

Data tersebut diperoleh usai pertemuan Asean Zero Emission Commision (AZEC) yang melibatkan 12 negara di bawah pimpinan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Airlangga menekankan bahwa struktur campuran energi saat ini menjadi faktor penting dalam menjaga resiliensi ekonomi.

"Sehingga tentu ini memperkuat resiliensi kita di bidang energi," lanjut Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.

Kinerja fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 5,11 persen sepanjang tahun 2025. Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4 persen, dengan ekspektasi capaian kuartal pertama yang lebih optimis.

"Dan di Q1 (2026) mungkin kita lihat bisa mencapai lebih besar atau sama dengan 5,5 persen," terang Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.

Indikator ekonomi makro lainnya menunjukkan inflasi tetap terkendali pada angka 3,48 persen dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang stabil di level 122,9. Indonesia juga mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut dengan nilai total 148,2 miliar Dolar AS.

Ketangguhan ekonomi nasional didukung oleh konsumsi dalam negeri yang memberikan kontribusi 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, rasio utang luar negeri berada pada level aman 29,9 persen terhadap PDB, dengan kepemilikan investor domestik pada Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 87,4 persen.

Lembaga internasional seperti IMF menjuluki Indonesia sebagai titik terang (bright spot) di Asia, sementara ADB memproyeksikan pertumbuhan PDB tahun 2026 di angka 5,2 persen. Laporan JP Morgan Asset Management turut menempatkan Indonesia sebagai negara kedua yang paling resilien terhadap guncangan energi dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi