Sektor peternakan nasional mengalami tekanan akibat industri pakan ternak di dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Ketergantungan ini memicu dampak rambatan langsung pada harga pangan saat nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), seperti dilansir dari Megapolitan pada Selasa (19/5/2026).
Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Pemindo), Kusnan, menjelaskan bahwa situasi tersebut berujung pada kenaikan harga pangan di tingkat konsumen akibat melonjaknya biaya produksi di hulu peternakan.
ÔÇ£Kalau tadi disampaikan harga pangan naik, memang salah satu penyebabnya karena kita masih bergantung pada impor bahan baku pakan ternak,ÔÇØ kata Kusnan, Selasa (19/5/2026), dikutip dari Youtube Obrolan News Room Kompas.com.
Pihaknya memaparkan bahwa komoditas soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai yang menjadi campuran pakan utama masih didatangkan dari luar negeri. Di sisi lain, harga pasokan jagung lokal ikut melonjak karena terimbas kenaikan biaya transportasi akibat pelemahan mata uang.
ÔÇ£Kenaikan harga jagung ini bisa dipicu oleh melemahnya rupiah. Ketika rupiah melemah, BBM naik, biaya transportasi naik, akhirnya harga jual jagung untuk kebutuhan pakan ternak juga ikut mahal,ÔÇØ ujar Kusnan.
Saat ini, harga SBM impor dilaporkan telah menyentuh angka hampir Rp 8.500 per kilogram. Kenaikan harga dua bahan baku vital ini berdampak langsung pada usaha budidaya ayam petelur maupun ayam pedaging.
ÔÇ£Dua komponen ini mayoritas dipakai sebagai bahan pakan ayam. Otomatis semuanya ikut naik,ÔÇØ kata Kusnan.
Ia menambahkan bahwa kondisi gejolak geopolitik internasional juga langsung memberikan sentimen negatif terhadap stabilitas ekonomi masyarakat di tingkat pedesaan.
ÔÇ£Karena kita masih mengandalkan impor bahan baku pakan, ekonomi kita jadi sangat tergantung pada situasi global. Saat geopolitik di Timur Tengah memanas, dampaknya langsung terasa sampai ke level bawah,ÔÇØ ujar Kusnan.
Kusnan mengingatkan bahwa kekuatan ketahanan pangan Indonesia sebenarnya bertumpu pada daya beli masyarakat kecil di desa.
ÔÇ£Ketahanan pangan itu ada di desa, ada di rakyat. Kalau rakyat sudah tidak mampu daya belinya, ekonomi kita juga perlu dikhawatirkan,ÔÇØ kata Kusnan.
Tingginya harga bahan baku impor juga mematikan inisiatif peternak mandiri untuk memproduksi racikan pakan sendiri demi efisiensi biaya. Sebagian besar peternak terpaksa beralih kembali mengonsumsi pakan jadi buatan pabrik besar dengan posisi tawar yang lemah.
ÔÇ£Hampir semua kebutuhan produksi pakan masih sangat bergantung pada impor. Mau tidak mau ketika harga pakan dari pabrikan naik, peternak sudah tidak punya posisi tawar,ÔÇØ ujar Kusnan.
Laporan dari anggota Pemindo di wilayah Sumatera mengindikasikan adanya instruksi dari perusahaan integrator besar untuk mempercepat masa panen ayam dengan ukuran yang lebih kecil dari standar. Upaya ini dilakukan guna menyiasati kendala restock bahan baku yang dialami oleh pihak pabrik pakan.
Kondisi ini sejalan dengan data pasar spot yang menunjukkan nilai tukar rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp 17.706 per dollar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026).