Ketergantungan Impor Kapas Indonesia Capai 99 Persen Jadi Sorotan

Ketergantungan Impor Kapas Indonesia Capai 99 Persen Jadi Sorotan
Foto: Ilustrasi Ketergantungan Impor Kapas Indonesia Capai 99 Persen Jadi Sorotan.

Indonesia kini menghadapi tantangan serius dalam kedaulatan sandang akibat ketergantungan ekstrem terhadap bahan baku tekstil luar negeri. Dilansir dari Wolipop, sebuah fakta mengejutkan terungkap bahwa hampir seluruh kebutuhan kapas di dalam negeri harus dipenuhi melalui jalur impor.

Kondisi memprihatinkan ini diangkat dalam sebuah film dokumenter berjudul 'Menolak Punah' yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. Film tersebut memaparkan realita bahwa Indonesia mengimpor sekitar 99 persen kebutuhan kapasnya dari negara lain.

"Indonesia mengimpor 99 persen kapas," demikian bunyi salah satu narasi dalam film dokumenter berdurasi 60 menit tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Trade Map menunjukkan nilai impor kapas Indonesia berkode HS 5201 menyentuh angka Rp 13,38 triliun sepanjang tahun 2024. Volume impor tersebut mencapai kisaran 405 ribu ton.

Meskipun angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang menembus US$ 1,52 miliar atau sekitar Rp 24 triliun dengan volume 467 ribu ton, selisihnya dinilai tidak signifikan. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris tetap belum mampu melepaskan diri dari jerat ketergantungan kapas global.

Kapas secara filosofis memiliki kedudukan tinggi di Indonesia sebagai simbol sila kelima Pancasila yang melambangkan kemakmuran. Kehadiran elemen kapas juga ditemukan pada berbagai lambang institusi negara seperti Polri hingga Kementerian Keuangan.

Dandhy Laksono menegaskan pentingnya mengakhiri pola ketergantungan yang sudah berlangsung lama ini. Penegasan tersebut disampaikan dalam sesi diskusi usai pemutaran film di Jakarta yang bertepatan dengan peringatan Hari Bumi dan Fashion Revolution Week 2026.

"Kita harus memutus lingkaran setan ini," ujar Dandhy.

Masalah benang impor ini berdampak langsung pada sektor kerajinan tradisional. Chitra Subyakto, pendiri jenama mode Sejauh Mata Memandang (SMM), mengakui bahwa para perajin kain lokal saat ini hampir tidak memiliki pilihan selain menggunakan benang dari kapas impor.

"Mau bilang kita pakai wastra Indonesia, tapi ternyata dibuat dengan benang impor," kata Chitra.

Hambatan Swasembada dan Harapan Lokal

Langkah menuju swasembada kapas masih terganjal oleh berbagai persoalan teknis dan struktural. Beberapa faktor utama meliputi alih fungsi lahan yang masif, kurangnya dukungan teknologi bagi petani, hingga rendahnya penggunaan varietas unggul di perkebunan lokal.

Di tengah situasi sulit tersebut, terdapat upaya inspiratif dari daerah untuk menghidupkan kembali budidaya kapas lokal. Pasangan suami-istri asal Lombok, Andi dan Dina Faisal, secara aktif berkeliling untuk mempelajari dan mempromosikan penanaman kapas dengan pendekatan kearifan lokal.

Inisiatif ini memberikan harapan bagi upaya mewujudkan kedaulatan sandang di masa depan. Fokus pada pengelolaan limbah pakaian dan kampanye melawan konsumsi mode cepat juga menjadi bagian penting dalam narasi penyelamatan industri tekstil nasional dari krisis bahan baku.

Artikel terkait

Rekomendasi