Harga Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level US$ 70.581 pada Senin (13/4/2026) pagi setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade Selat Hormuz akibat gagalnya pembicaraan damai dengan Iran, seperti dilansir dari Investortrust.
Pelemahan mata uang kripto tersebut terjadi sesaat setelah pasar berjangka Amerika Serikat resmi dibuka. Penurunan total aset digital ini tercatat mencapai 2,7 persen dalam kurun waktu satu hari.
Sebelum menyentuh titik terendah baru, nilai Bitcoin awalnya terkoreksi sebesar 1,9 persen ke angka US$ 71.686. Blokade pada jalur perdagangan strategis itu memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasar keuangan dunia.
Selain berdampak pada sektor kripto, konflik ini memicu lonjakan harga minyak mentah global sebesar 9,5 persen menjadi US$ 105 per barel dalam kurun waktu 30 menit. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ketegangan yang terjadi dalam enam minggu terakhir ini menciptakan volatilitas tertinggi di sektor energi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Donald Trump mengonfirmasi kebijakan penutupan jalur laut tersebut secara langsung.
<"pemerasan dunia">
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social. Ia menambahkan bahwa perundingan menemui jalan buntu lantaran pihak Iran tidak bersedia menghentikan pengembangan program nuklir mereka.
Guna merespons situasi di lapangan, pemimpin Amerika Serikat itu langsung menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mengambil tindakan tegas terhadap kapal-kapal yang memberikan setoran kepada pihak Iran.
Militer Amerika Serikat juga diperintahkan untuk segera membersihkan dan menghancurkan seluruh ranjau laut yang terpasang di kawasan perairan strategis tersebut.
Di sisi lain, pihak Iran bersedia melakukan gencatan senjata apabila beberapa persyaratan dipenuhi. Tuntutan tersebut meliputi pemberian kompensasi akibat perang serta pemulihan akses terhadap aset keuangan mereka yang dibekukan.
Meski menghadapi tekanan sentimen negatif jangka pendek, kinerja Bitcoin secara umum masih menunjukkan tren positif sebesar 7,4 persen ke level US$ 71.194 sejak awal mula konflik bergejolak pada 28 Februari 2026.
Pertumbuhan nilai aset kripto ini tercatat masih mampu melampaui imbal hasil dari indeks saham S&P 500 serta komoditas emas dalam periode pembatasan wilayah yang sama.