Ketahanan Ekonomi Indonesia Tertekan Akibat Defisit Anggaran

Ketahanan Ekonomi Indonesia Tertekan Akibat Defisit Anggaran
Foto: Ilustrasi Ketahanan Ekonomi Indonesia Tertekan Akibat Defisit Anggaran.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyatakan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia saat ini dinilai rentan oleh investor global pada Jumat (15/5/2026). Kondisi tersebut dipicu oleh tekanan fiskal yang terus membesar dan pelebaran defisit anggaran negara.

Huda menjelaskan bahwa berbagai laporan dari lembaga internasional maupun domestik kini menaruh perhatian serius pada pengelolaan fiskal Indonesia. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Money, titik lemah tersebut menjadi faktor utama yang memengaruhi pandangan para pemodal terhadap stabilitas ekonomi nasional.

ÔÇ£Melalui berbagai laporan, baik dari lembaga internasional ataupun dalam negeri, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai rentan. Salah satu fokus utama hampir semua lembaga adalah pengelolaan fiskal,ÔÇØ ujar Huda kepada Kompais.com, Jumat (15/5/2026).

Pengamat ekonomi ini menambahkan bahwa para pemegang modal akan menggunakan laporan-laporan tersebut sebagai rujukan utama sebelum menanamkan investasi di tanah air. Dampak dari sentimen negatif ini dikhawatirkan dapat memicu keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik.

ÔÇ£Investor pada akhirnya melihat ekonomi Indonesia dalam kondisi bahaya karena fiskal kita terlalu tinggi defisitnya hanya untuk pendanaan MBG,ÔÇØ katanya.

Penurunan daya tarik investasi ini juga dipicu oleh terbatasnya ruang fiskal pemerintah akibat kewajiban membayar utang dan bunga utang yang terus membengkak. Situasi ini dinilai memperkuat kekhawatiran pasar mengenai keberlanjutan fiskal Indonesia dalam jangka panjang.

ÔÇ£Ruang fiskal untuk pembangunan ekonomi kian menyempit, ditambah pembayaran utang dan bunga utang yang membesar. Risiko gagal bayar akhirnya menguat dan investor takut,ÔÇØ ujar dia.

Huda memberikan penegasan bahwa Indonesia saat ini belum berada dalam posisi yang menguntungkan sebagai destinasi investasi di tingkat dunia. Hal ini berbanding terbalik dengan target-target pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah sebelumnya.

ÔÇ£Itulah mengapa investor saya rasa tidak akan melihat Indonesia sebagai negara tujuan investasi untuk saat ini,ÔÇØ ucapnya.

Sorotan tajam juga diarahkan pada pendanaan program Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) yang dianggap semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Huda mencatat adanya ketimpangan antara laju kenaikan pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan penerimaan negara.

ÔÇ£Belanja APBN semakin naik, penerimaan negara naik tidak setinggi belanja. Akhirnya, yang terjadi defisit anggaran negara semakin melebar,ÔÇØ katanya.

Implikasi dari tekanan fiskal ini disebut akan meluas hingga ke tingkat daerah melalui beban pemotongan dana desa untuk membayar cicilan tertentu. Kondisi ini membuat efektivitas pembangunan ekonomi di tingkat akar rumput menjadi semakin diragukan.

ÔÇ£Ditambah lagi beban APBDes sudah terkuras untuk bayar cicilan utang KDKMP yang mana pembangunan dari bawah pun tidak ada. Begitu juga dana APBD yang semakin seret,ÔÇØ ujar Huda.

Menurut analisis Celios, masa depan pembangunan ekonomi masyarakat terancam melambat jika belanja negara hanya berfokus pada program-program prioritas tertentu tanpa memperhatikan sektor produktif lainnya.

ÔÇ£Saya melihat ke depan pembangunan ekonomi di masyarakat akan berkurang, yang ada hanyalah kegiatan MBG dan KDKMP. Sinyal bahaya ekonomi sudah di depan mata,ÔÇØ katanya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pandangan berbeda terkait capaian ekonomi nasional pada triwulan pertama tahun ini. Purbaya menyampaikan pada Kamis (14/5/2026) bahwa ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,61 persen.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa sektor konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi mencapai 2,94 persen terhadap PDB. Menkeu menegaskan bahwa daya beli masyarakat tetap solid meskipun menghadapi gempuran pelemahan rupiah.

ÔÇ£Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,ÔÇØ ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).

Artikel terkait

Rekomendasi