Invasi ikan sapu-sapu di perairan Indonesia diprediksi mengakibatkan kerugian ekonomi tahunan mencapai Rp 2,72 triliun dalam skenario moderat berdasarkan pemodelan total economic loss (TEL). Data tersebut dipaparkan oleh pakar spesies akuatik invasif IPB University pada Sabtu (25/4/2026).
Dilansir dari Lestari, total kerugian yang timbul tersebut setara dengan 0,012 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2025. Perhitungan kerugian mencakup tujuh komponen, mulai dari produksi perikanan tangkap, kerusakan alat, hingga biaya kesehatan masyarakat.
"Kami menganggapnya (hasil perhitungan) paling realistis untuk saat ini," ujar Surya Gentha Akmal, pakar spesies akuatik invasif dari IPB University.
Sektor jasa ekosistem dan produksi perikanan tangkap menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan nilai masing-masing sebesar Rp 1,13 triliun dan Rp 1,12 triliun. Keberadaan spesies ini mengancam populasi lokal karena sifat predasi terhadap telur ikan yang mencapai 90 persen.
Penurunan drastis hasil tangkapan nelayan tradisional terlihat di Danau Sindereng, Sulawesi Selatan, di mana rata-rata tangkapan merosot dari 45,55 kg menjadi hanya 21,45 kg setelah ledakan populasi sapu-sapu. Gentha menekankan urgensi pengendalian untuk mencegah hilangnya spesies endemik secara permanen.
"Danau Poso ini ancient lake, danau purba yang menyimpan spesies-spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di seluruh dunia. Niatnya baik ya, introduksi mujair pada 1951 untuk meningkatkan ketahanan pangan, memberi sumber protein yang cepat tumbuh. Tetapi konsekuensinya jauh di luar perhitungan kita semua," ucap Gentha.
Berdasarkan pendekatan InvaCost Methodology, akumulasi kerugian ekonomi akibat ikan sapu-sapu di Indonesia diproyeksikan bisa menyentuh angka Rp 23,59 triliun selama periode 2026 hingga 2035. Simulasi analisis Monte Carlo juga memperkuat temuan ini dengan estimasi kerugian minimal di angka triliunan rupiah.
"Kerugiannya paling sedikit Rp 1,5 triliun. Ini angka absolut, tidak mungkin lebih rendah ya dari hasil hitung-hitungan dari semua publikasi, dari semua riset yang sudah coba kami kumpulkan ya," tutur Gentha.