Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof Taruna Ikrar mendapatkan penugasan akademik sebagai Adjunct Professor. Jabatan di bidang Advanced Cell Gene Therapy Pharmacology ini diberikan oleh UTM Space di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (23/5/2026).
Seperti diberitakan oleh Detik Health, penugasan akademik tersebut diserahkan dalam sebuah forum ilmiah. Acara ini dihadiri oleh kalangan akademisi, pejabat pemerintah, serta perwakilan dari Indonesia dan Malaysia guna memperkuat kolaborasi ilmu pengetahuan dan kesehatan.
Pemberian gelar tersebut menjadi apresiasi atas kontribusi akademik Taruna Ikrar di bidang biomedis, neurosains, farmakologi, terapi sel dan gen, serta kesehatan masyarakat. Ia telah aktif mengembangkan riset lintas disiplin selama lebih dari dua dekade, termasuk pemetaan otak, neurofarmakologi, hingga terapi modern.
Taruna menegaskan bahwa kemajuan teknologi kesehatan harus diorientasikan untuk memberikan kegunaan nyata bagi masyarakat luas.
"Pharmacology is about one simple thing: saving lives," ujar Taruna dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Perkembangan terapi gen juga menjadi perhatian utama Taruna karena menjadi salah satu pendekatan medis yang melaju pesat di tingkat global. Menurutnya, metode ini membuka jalan bagi pengobatan yang lebih presisi sebab langsung menyasar akar biologis penyakit melalui modifikasi atau penggantian fungsi gen spesifik.
"Sains tidak boleh berhenti di laboratorium atau sekadar menjadi arsip jurnal. Inovasi harus dapat diwujudkan menjadi solusi yang memberi dampak bagi masyarakat," ujar Taruna.
Ia menambahkan bahwa kemajuan dalam terapi gen, terapi sel, precision medicine, hingga penerapan kecerdasan buatan pada sektor kesehatan harus berjalan beriringan dengan tata kelola regulasi yang kuat serta berbasis pembuktian ilmiah.
"Regulations are about protecting hope," katanya.
Setiap obat, vaksin, ataupun metode terapi baru diwajibkan melewati proses pengkajian ilmiah yang ketat. Langkah ini krusial demi melindungi keselamatan masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan publik.
Pada forum tersebut, Taruna mengingatkan pentingnya kesiapan wilayah Asia Tenggara dalam menyambut transformasi industri kesehatan global. Negara-negara di kawasan ini dinilai mempunyai peluang besar untuk memperkokoh kapasitas riset, pengembangan bioteknologi, ekosistem farmasi, serta regulasi kesehatan. Asia Tenggara diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi ikut menjadi bagian dari pengembangannya.
Agenda akademik di Malaysia ini menjadi wadah pertukaran ide terkait penguatan inovasi kesehatan dan kesiapan regulasi regional. Selaras dengan tren ilmu pengetahuan, BPOM RI terus meningkatkan pengawasan obat dan pangan lewat pendekatan berbasis sains, standardisasi internasional, serta kolaborasi untuk memastikan produk yang beredar aman, berkhasiat, dan bermutu.
Saat menghadiri kegiatan tersebut, Taruna Ikrar didampingi oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM RI Ny. Elfi Taruna Ikrar. Hadir pula Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM William Adi Teja bersama jajaran dan perwakilan keluarga besar BPOM RI.
Sejumlah pejabat lain juga tampak hadir, di antaranya Wakil Menteri Tenaga Kerja RI Afriansyah Noor, Bupati Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Andi Rudi Latif, serta para pemangku kepentingan dari dunia akademik dan pemerintahan.