Rusia Ungkap Kendala Sistem SWIFT dalam Rencana Impor Migas Indonesia

Rusia Ungkap Kendala Sistem SWIFT dalam Rencana Impor Migas Indonesia
Foto: Ilustrasi Rusia Ungkap Kendala Sistem SWIFT dalam Rencana Impor Migas Indonesia.

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, mengungkapkan kendala sistem pembayaran Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) menjadi hambatan utama rencana impor minyak dan gas (migas) oleh Indonesia pada Kamis (17/4/2026). Masalah teknis ini muncul seiring keinginan serius pemerintah Indonesia untuk mendatangkan komoditas energi tersebut dari Rusia.

Hambatan tersebut merupakan dampak langsung dari sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan negara-negara Barat terhadap Rusia akibat konflik di Ukraina. Kondisi ini membuat Rusia tidak lagi tergabung dalam jaringan pesan pembayaran antarbank global tersebut, sebagaimana dilansir dari Nasional.

Tolchenov menjelaskan bahwa transaksi pembelian minyak mengharuskan Indonesia melakukan transfer dana langsung ke Rusia. Namun, tanpa akses SWIFT, jalur transaksi menjadi sangat terbatas dan memerlukan mekanisme alternatif yang lebih kompleks.

"Itu masalahnya karena kami, Rusia, tidak bisa menggunakan SWIFT, mungkin (bisa dilakukan) hanya melalui negara ketiga," kata Sergei Gennadievich Tolchenov, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Republik Indonesia.

Pemanfaatan jalur melalui negara ketiga dinilai sebagai solusi potensial meskipun konsekuensinya akan memperpanjang alur transfer dana. Sistem SWIFT sendiri telah menangani pembayaran untuk 11.000 lembaga keuangan di seluruh dunia dengan volume mencapai 42 juta pesan transaksi per hari.

Catatan Financial Times menunjukkan bahwa penghentian akses perbankan lintas negara tanpa bantuan SWIFT akan memicu biaya yang lebih mahal dan durasi transaksi yang lebih lama. Sejak pemblokiran pada tahun 2022, perekonomian Rusia mengalami dampak signifikan, termasuk prediksi penyusutan produk domestik bruto sebesar 5 persen dalam setahun.

Keterbatasan ini juga mengancam kemampuan Rusia dalam mengoptimalkan keuntungan dari ekspor minyak dan gas yang menyumbang 40 persen pendapatan negara. Meskipun Rusia telah mengembangkan sistem pembayaran alternatif bersama China, Atlantic Council mencatat jangkauan platform tersebut masih sangat kecil dibandingkan SWIFT.

Artikel terkait

Rekomendasi