Harga Energi Global Melonjak Picu Penyesuaian Tarif Domestik

Harga Energi Global Melonjak Picu Penyesuaian Tarif Domestik
Foto: Ilustrasi Harga Energi Global Melonjak Picu Penyesuaian Tarif Domestik.

Ketegangan geopolitik global dan gangguan rantai pasok telah memicu lonjakan harga energi internasional yang berdampak pada stabilitas ekonomi nasional pada Selasa (12/5/2026). Tren kenaikan ini meliputi komoditas bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), hingga liquefied natural gas (LNG) di kawasan Asia.

Direktur Eksekutif Rofirminer Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa energi dan pangan merupakan prioritas utama yang harus diamankan oleh setiap negara saat menghadapi krisis politik global. Dilansir dari Money, kenaikan harga yang terjadi saat ini dinilai tidak terlepas dari faktor non-fundamental.

"Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan," ungkap Komaidi, Selasa (12/5/2026).

Situasi distribusi energi dunia semakin terancam apabila terjadi penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi atensi utama para konsumen global. Komaidi menekankan bahwa indeks harga gas seperti LPG dan LNG secara otomatis akan mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," ujarnya.

Analisis pasar menunjukkan keterkaitan erat antara harga minyak mentah dengan produk turunan gas yang dipasarkan secara internasional. Dampak ini telah dirasakan langsung melalui penyesuaian tarif pada sektor industri di dalam negeri.

"Harga LPG dan LNG di indeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik," kata dia.

Data dari Money mencatat harga LPG industri non-subsidi 50 kilogram di Indonesia melonjak sekitar 25 hingga 26 persen, dari Rp 850.000 menjadi Rp 1,068 juta per tabung pada Mei 2026. Kenaikan lebih tajam terjadi pada solar industri yang meroket hingga 84 persen, dengan harga mencapai kisaran Rp 26.000 hingga Rp 27.900 per liter.

Ketidakpastian pasar diperkirakan masih akan berlanjut mengingat faktor non-fundamental yang mendominasi pergerakan harga saat ini sulit untuk dikalkulasi secara pasti.

"Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa," imbuh Komaidi.

Fenomena ini mendorong negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura untuk mengubah strategi energi mereka guna menjaga keberlanjutan pasokan domestik. Singapura mencatat harga gas sektor retail mencapai 47,54 dollar AS per MMBtu, sementara Vietnam mulai bergantung pada pasar spot Asia dengan harga 27,81 dollar AS per MMBtu.

Perbandingan Harga Gas di Kawasan ASEAN 2026
NegaraSektor/JenisHarga (USD/MMBtu)
VietnamHarga Gas Pasar Spot27,81
FilipinaHarga LNG (S&P Global)28,50
SingapuraBulk Industri40,12
SingapuraRetail Umum47,54

Lonjakan harga juga terlihat pada indeks Japan Korea Marker (JKM) sebesar 111 persen dan Japan Customs-Cleared Crude (JCC) sebesar 97 persen sepanjang tahun ini. Indonesian Crude Price (ICP) turut terkerek naik sekitar 99 persen pada April 2026 dibandingkan rencana awal tahun.

"Memang harga LNG akan dikaitkan dengan harga minyak mentah. Kalau harga minyak tinggi maka harga LNG juga tinggi. Dan sebelumnya pernah lebih tinggi. Ini terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia saja," ujar Komaidi.

Langkah penyesuaian harga energi non-subsidi di dalam negeri dipandang sebagai tindakan rasional untuk menjaga kesehatan fiskal negara dan ekosistem energi jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi